Komunikasi merupakan hal yang
mendasar dalam kehidupan manusia. Sebagai makhluk individu dan sosial, manusia
tidak terlepas dari komunikasi. Komunikasi merupakan aspek penting yang
berperan dalam perkembangan kepribadian manusia. Manusia dapat membangun
hubungan dengan orang lain melalui komunikasi. Suatu organisasi melalui
komunikasi dapat memotivasi karyawan sehingga meningkatkan kinerja perusahaan. Melalui
komunikasi kita juga dapat menurunkan nilai-nilai dari generasi ke generasi
dengan menggunakan media massa (Ruben: 1992).
Seiring dengan perkembangan
teknologi komunikasi, internet memampukan setiap orang dapat berkomunikasi di
belahan bumi manapun dan kapanpun. Komunikasi menjadi pusat kegiatan manusia. Dengan
demikian dari penjelasan di atas dapat dipahami bahwa manusia tidak dapat tidak
berkomunikasi seperti yang dikatakan oleh Watzlawick (1967).
Sejarah komunikasi sudah
berlangsung sejak jaman Yunani Kuno yang berawal dari retorika. Aristoteles
memandang komunikasi sebagai aktifitas verbal dari pembicara melalui upaya
membujuk untuk mencapai tujuannya kepada pendengar melalui keahlian yang
dibangun dari argumen dan disampaikan melalui bicara.
Teori-teori komunikasi pada
awalnya melihat komunikasi sebagai proses sederhana yang berlangsung satu arah. Pada
tahun 1948, Laswell seorang ilmuwan politik memberikan pandangannya mengenai
komunikasi yang dikenal dengan Model Laswell. Laswell menekankan pada elemen-elemen
yang ada dalam komunikasi antara lain pembicara yang mempengaruhi audiens melalui
pesan.
Selanjutnya komunikasi mengalami
perluasan sejalan dengan perkembangan jurnalistik dan media massa yang dimulai
dari pencetakan, radio dan televisi. Shannon dan Weaver memberikan pandangannya
dari sudut pandang matematik. Shannon memperkenalkan bahwa komunikasi
melibatkan tidak hanya tulisan dan berbicara saja. Mereka menambahkan elemen media
massa di mana terdapat hambatan-hambatan. Sementara itu Model Schramm yang
merupakan elaborasi dari Model Shannon dan Weaver memandang komunikasi dari
proses perpindahan pesan.
Model-model komunikasi berikutnya
memandang komunikasi sebagai proses yang berlangsung dua arah. Seperti yang
diperkenalkan pada Model Katz dan Lazarfeld yang menambahkan elemen opinion leader, kemudian Model Westley
dan Maclean memaparkan proses komunikasi yang memiliki feedback.
Model Berlo pada tahun 1960
diperkenalkan dengan memberikan penekanan pada elemen-elemen komunikasi yaitu source, message, channel dan receiver. Begitu pula dengan Model Dance
yang memberikan konsep bahwa komunikasi itu kompleks dan merupakan proses yang
evolusioner.
Pada tahun tersebut Watzlawick,
Beavin dan Jackson memberikan pandangan komunikasi yang didasari oleh studi
kejiwaan dan pengobatan. Komunikasi bukanlah sekedar penyampaian pesan yang
memiliki tujuan, namun untuk memahami bagaimana komunikasi itu dapat berjalan,
perlu mempertimbangkan faktor keterlibatan individu dalam membuat pemaknaan kata-kata
dan perilaku.
Kemudian tahun 1970 merupakan
periode meningkatnya berbagai pemahaman tentang interpersonal, kelompok,
organisasi, politik, internasional, budaya dan masyarat. Lebih lanjut, pada
tahun 1980, era informasi memberikan pengaruh besar terhadap perkembangan
komunikasi sebagai interdisiplin ilmu.
Era informasi mengalami
peningkatan oleh karena penggunaan media di berbagai situasi komunikasi. Era
informasi melihat komunikasi sebagai suatu proses komoditi yang dipindahkan
dari satu orang, kelompok, organisasi
atau masyarakat yang satu ke yang lainnya.
Selanjutnya, pendekatan
komunikasi mengalami perluasan sehingga komunikasi merupakan ilmu yang multidisipliner.
Perkembangan komunikasi meliputi perspektif pembuatan pesan, perpindahan,
interpretasi dan penggunaan pesan oleh individu dalam hubungan kelompok,
organisasi, budaya dan masyarakat.
Komunikasi sebagai interdisiplin
ilmu, memberikan pengaruh dan memiliki pengaruh terhadap disiplin ilmu yang
lain. Beberapa area studi yang memiliki hubungan pada komunikasi antara lain psikologi
pengetahuan, budaya dan kritik, ekonomi, ilmu komputer dan engineering electrical, information science, jurnalisme, literature,
dan marketing.
Filsafat dan Filsafat Ilmu
Pengetahuan
Istilah filsafat pertama kali
digunakan oleh Pythagoras pada abad ke-6 SM. Istilah tersebut berasal dari
bahasa Yunani Kuno yaitu Philosophia dan philosofo yang berarti orang yang
cinta pada kebijaksanaan atau cinta pada pengetahuan (Lubis: 2014).
Dalam filsafat, kegiatan
mencintai pengetahuan/ kebijaksanaan itu dilakukan dengan komprehensif dan
mendasar. Komprehensif yaitu melihat secara menyeluruh sementara mendasar
adalah mencapai hakikat atau yang paling mendasar. Filsafat dipahami sebagai
upaya terus menerus mencari pengetahuan
dan kebenaran. Tiga filsuf besar Yunani klasik yang paling banyak memengaruhi
pemikiran filsafat masa abad pertengahan dan modern ialah Socrates, Plato dan
Aristoteles.
Secara umum, pembagian atau
pemetaan bidang filsafat secara garis besar dikelompokan menjadi tiga bidang
yaitu ontologi, epistemology dan aksiologi. Ontologi adalah cabang filsafat
yang membahas atau membicarakan masalah “ada”/ “realitas”. Epistemologi adalah
cabang filsafat yang mengkaji tentang hakikat pengetahuan di mana yang terkait
didalamnya adalah tentang logika, filsafat ilmu dan metodologi. Sedangkan
aksiologi adalah cabang filsafat yang membahas tentang nilai (value) yang mengacu pada pengertian etis
dan estetis, yang terkait dengan bidang etika dan estetika.
Filsafat ilmu pengetahuan adalah
sebuah refleksi tentang ilmu pengetahuan empiris, tentang proposisi-proposisi
dan kerangka paradigmatis yang ada didalamnya. Dengan demikian filsafat ilmu
pengetahuan berkaitan dengan bagaimana ilmu pengetahuan dibangun, struktur
logis dan proses penerimaan dalam masyarakat.
Sementara itu ilmu pengetahuan
merupakan pengetahuan yang pasti yang didukung oleh penelitian dan refleksi
yang dilakukan secara terus menerus terhadap pengetahuan yang sudah ada (Dua:
2007). Dan ilmu pengetahuan memberikan
dampak terhadap perkembangan kemanusiaan.
Bertrand Russel memberikan indikasi
bahwa ilmu pengetahuan empiris dan perkembangannya memberikan jaminan bagi
perkembangan kemanusiaan. Pertama ilmu pengetahuan memberikan dampak efisien
terhadap kehidupan manusia. Sehingga ilmu pengetahuan memudahkan banyak pekerjaan
manusia. Manusia dengan demikian memiliki teknik sebagai alat-alat untuk
mencapai tujuan yang belum pernah ada.
Kedua, ilmu pengetahuan berfungsi
besar bagi kehidupan manusia dan memiliki peran yang sebelumnya dipercayakan
pada agama dan mitologi. Karena manusia harus mampu memisahkan antara urusan
duniawi dan surgawi. Ilmu pengetahuan memberikan rekomendasi pada yang baik
bagi manusia. Sedangkan yang ketiga, ilmu pengetahuan mampu memperbaiki
pandangan manusia tentang dunia.
Filsafat dan Ilmu pengetahuan
sama-sama mencari kebenaran. Perbedaannya adalah filsafat melihat pada
konsep-konsep dan asumsi-asumsi dasar teori, sementara ilmu pengetahuan melihat
pada fenomena. Filsafat ilmu pengetahuan memberikan metode untuk mendapat
pengetahuan yang logis dan benar. Sehingga demikian filsafat ilmu pengetahuan memiliki
prinsip kebenaran.
Ilmu Sosial
Ilmu pengetahuan secara sederhana
dibagi ke dalam dua kelompok yaitu pertama kelompok ilmu pengetahuan alam
(fisika, kimia, astronomi dan lain-lain) dan kedua adalah kelompok ilmu pengetahuan
sosial budaya.
Kelompok ilmu pengetahuan alam memiliki
tujuan penelitian yaitu mencari hukum-hukum (nomos). Metode yang sering
digunakan adalah metode empiris kuantitatif dengan model penjelasan kausalitas
atau sebab akibat tentang fenomena alam. Sementara itu kelompok ilmu sosial
budaya menggunakan ilmu hermeneutika, fenomonologi atau metode kualitatif dan
menggunakan bahasa deskriptif.
Ilmu sosial mempelajari
aspek-aspek yang berhubungan dengan manusia dan sosialnya. Yaitu bagaimana
manusia berinteraksi dengan orang lain. Ada tiga paradigma dalam ilmu menurut
George Ritzer yaitu paradigma fakta sosial, paradigma definisi sosial dan
paradigma perilaku sosial.
Paradigma fakta sosial yang
dipengaruhi oleh positivisme Augus Comte mendasarkan pada fakta yang
terobservasi dari realitas sosial yaitu fakta sosial, efek dan tindakan
individu. Paradigma definisi sosial memberi fokus pada para pelaku sosial
mendefinisikan situasi sosial, efeknya terhadap tindakan individu dan interaksinya.
Sementara paradigma perilaku sosial mempunyai fokus pada tingkah laku yang
teramati tanpa mempertimbangkan maknanya.
Beberapa cabang ilmu sosial
antara lain antropologi (mempelajari segi kebudayaan masyarakat), sosiologi
(mempelajari masyarakat dan hubungan manusia di dalamnya), ekonomi (mempelajari
produksi dan pembagian kekayaan dalam masyarakat), linguistik (mempelajari
aspek kognitif dan sosial dari bahasa).
Ciri dan karakteristik bahasa.
Bahasa berasal dari Sansekerta,
yang berarti kemampuan yang dimiliki manusia untuk dipergunakan bertutur dengan
manusia lainnya dengan tanda, misalnya kata dan gerakan. Bahasa sering
dikatakan sebagai alat komunikasi, namun pada dasarnya bahasa adalah kompleks. Dengan
bahasa, manusia dapat memahami apa yang ingin disampaikan sehingga memastikan
kepastian dalam pemahamannya (Chaer: 2007).
Bahasa digunakan oleh manusia
sehari-hari sebagai makhluk sosial untuk berinteraksi satu sama lain. Fungsi
bahasa antara lain untuk menyampaikan informasi dari seseorang kepada orang
lain. Bahasa juga merupakan cara seseorang mengekspresikan dirinya untuk
menyatakan keberadaan dirinya. Melalui bahasa seseorang juga bisa beradaptasi
dan menjadi bagian dari suatu
masyarakat. Sebagai kontrol sosial di dalam masyarakat bahasa dapat
memengaruhi orang lain. Selain itu bahasa juga berfungsi sebagai hiburan.
Dengan demikian bahasa berkaitan
dengan individu dan masyarakat atau sosial di mana individu menjadi bagian
didalamnya. Dan perlu dipahami bahwa bahasa bersifat manusiawi karena bahasa
hanya digunakan oleh manusia sebagai makhluk yang memiliki kemampuan kognitif,
yang mengelola melalui otak dan pikiran.
Manusia sebagai bagian dari
kehidupan bermasyarakat selalu berubah. Dalam arti kehidupan masyarakat itu
mengalami perkembangan dari suatu waktu ke waktu lain. Sehingga manusia adalah
makhluk yang dinamis. Begitu pula dengan bahasa. Bahasa bersifat dinamis karena
bahasa mengikuti perkembangan dari masyarakat.
Terdapat ribuan variasi bahasa di
dunia, karenanya bahasa dipahami berbeda di tiap-tiap tempat. Bahasa itu unik
karena selain setiap orang memiliki logat yang berbeda, begitu pula dengan tiap
daerah yang memiliki dialek berbeda satu dengan yang lain. Namun perlu
digarisbawahi bahwa bahasa bersifat universal dalam artian bahasa memiliki ciri
dan karakter yang sama yang dipahami dan disetujui bersama.
Bahasa memiliki sistem, ini
berarti bahwa bahasa merupakan susunan yang teratur dan memiliki pola sehingga
membentuk suatu makna. Bahasa terdiri dari unsur-unsur atau komponen-komponen
teratur dengan pola tertentu yang membentuk kesatuan. Bahasa memiliki
unsur-unsur terbatas, namun dengan keterbatasannya bahasa mampu memproduksi
satuan-satuan bahasa yang jumlahnya tidak terbatas.
Bahasa bersifat sistematis dan
sistemis. Sistemis artinya bahasa tersusun menurut satu pola teratur, tidak
acak atau sembarangan. Sedangkan sistematis berarti bahasa bukan sistem yang
tunggal. Bahasa memiliki sub sistem yaitu fonologi, morfologi, sintaktis dan
semantik.
Bahasa diwujudkan dalam lambang-lambang. Ilmu yang
mengkaji lambang-lambang disebut dengan semiotika, yaitu ilmu yang mempelajari
tanda-tanda dalam kehidupan manusia. Semiotika membedakan beberapa tanda yaitu
tanda (sign), lambang (symbol), sinyal (signal), gejala (symptom),
gerak isyarat (gesture), kode, indeks dan ikon. Lambang bersifat arbitrer yaitu
antara lambang dan makna tidak harus berhubungan langsung.
Lambang merupakan salah satu
karakter bahasa. Lambang memiliki pengertian, konsep, ide atau pemikiran. Begitu
pula dengan bunyi. Bahasa dapat diwujudkan berupa bunyi. Lambang dan bunyi sama
sama memberikan suatu makna.Bahasa bersifat konvensional. Ini
berarti semua anggota masyarakat bahasa itu mematuhi konvensi bahwa lambang
tertentu itu digunakan untuk mewakili konsep yang diwakilinya.
Dari kajian di atas dapat dilihat
bahwa bahasa merupakan alat manusia dalam berkomunikasi dimana didalamnya
mengandung unsur manusia sebagai makhluk individu dan sosial dan bahasa
memiliki wujud yang dipahami dan dipelajari bersama di dalam suatu budaya.
Pendekatan bahasa.
Terdapat pendekatan-pendekatan
yang berhubungan dengan ilmu bahasa (Fisher: 1978).
Bahasa memiliki struktur dan
digunakan dalam struktur sosial maupun institusi sosial. Struktur bahasa memiliki interaksi dengan
pembentukan budaya dan fungsi bahasa di dalam konflik sosial, kontrol sosial,
status sosial dan solidaritas kelompok. Sistem bahasa berbeda satu dengan yang
lain.
Pendekatan studi bahasa
melibatkan observasi langsung dari struktur atau sintaktik bahasa yang
berkaitan dengan aspek-aspek semantik atau pemaknaan yang secara implisit
mengandung sturktur. Walaupun pendekatan ini tidak bisa dipisahkan dari budaya,
namun penekanannya adalah kepada pemahaman semantik (makna) sebagai aspek
bahasa dibandingkan sebagai institusi sosial.
Pendekatan ketiga melihat penerimaan
dan pembangunan bahasa pada komunitas bahasa tertentu. Ilmu bahasa melihat pola
ketika seseorang menjadi bagian dari sistem.
Pendekatan keempat yaitu melihat
studi bahasa sebagai semantik umum. Penggunaan semantik dalam ilmu bahasa
adalah untuk dapat mengecilkan ketidaksepahaman dari pengunaan bahasa masing-masing
individu.
Teori-Teori Bahasa
Teori Simbol Sussane Langer.
Teori simbol Sussane Langer
merupakan teori yang memberikan standarisasi untuk tradisi semiotik dalam
kajian komunikasi. Perasaan manusia dimediasikan oleh konsepsi, simbol dan
bahasa. Manusia mengolah tanda dengan cara yang kompleks, yaitu mempergunakan simbol-simbol.
Tanda (sign) adalah sebuah stimulus yang menandakan kehadiran suatu hal.
Sebuah tanda memiliki hubungan dengan makna dari kejadian sebenarnya. Hubungan
antara makna dan kejadian sebenarnya disebut dengan pemaknaan (signification).
Simbol digunakan dengan cara yang
lebih kompleks dengan membuat seseorang untuk berpikir tentang sesuatu yang
terpisah dari kehadirannya. Simbol adalah instrumen pemikiran dan simbol adalah
konseptualisasi manusia tentang suatu hal.
Sebuah simbol atau kumpulan simbol-simbol
bekerja dengan menghubungkan sebuah konsep, ide umum, pola atau bentuk. Menurut
Langer konsep adalah makna yang disepakati bersama-sama diantara pelaku
komunikasi. Makna yang disetujui disebut dengan makna denotatif sementara makna
pribadi adalah makna konotatif.
Penggunaan simbol pada manusia
memiliki fakta bahwa tidak ada hubungan langsung simbol dan objek sebenarnya
dan juga simbol yang digunakan dalam kombinasi.
Teori Bahasa.
Ferdinand de Saussure (1988)
memberikan konsep bahasa sebagai obyek yang diteliti yaitu langue, parole dan langage. Saussure menggunakan tanda
untuk ungkapan dalam bahasa dan membuat adanya pembeda bahasa formal (langue) dengan kegunaan bahasa
sebenarnya dalam komunikasi (parole)
yaitu pengucapan. Langue adalah keseluruhan kebiasaan yang diperoleh secara
pasif yang diajarkan oleh masyarakat bahasa, yang memungkinkan para penutur
saling memahami dan menghasilkan unsur-unsur yang dipahami penutur dalam
masyarakat. Dan linguistik merupakan kajian dari bahasa formal.
Parole merupakan hasil
manifestasi individu dari bahasa. Parole
tidak dapat dimasukan ke dalam fakta-fakta manusia karena tidak dapat
mengungkap kesatuannya. Dalam bahasa formal, parole memperhatikan hal yang berbentuk bahasa seperti pengucapan,
kata-kata dan tata bahasa. Sementara itu gabungan antara parole dan kaidah bahasa disebut langage.
Teori-teori Sistem Non-verbal
Teori-teori tanda non-verbal
merupakan elemen penting dalam tradisi semiotik. Hal ini dikarenakan adanya
anggapan bahwa bahasa dan perilaku seringkali tidak bekerja bersama.
Kode non-verbal adalah kumpulan
perilaku yang digunakan untuk menyampaikan arti. Judee Burgoon menggolongkan
sistem kode non-verbal memiliki beberapa struktur sifat. Pertama kode
non-verbal cenderung analog karena sinyalnya yang berkesinambungan, membentuk
sebuah tingkatan atau spektrum seperti volume suara atau intensitas cahaya.
Kedua adalah kemiripan (iconicity), kode ikon menyerupai benda
yang disimbolkan. Reid Goldsborough memaparkan bahwa tampilan wajah lucu (funny face) dan simbol-simbol yang
dilihat atau digunakan pada teks, chats,
posts, dan email merupakan hal
yang paling membedakan pada komunikasi online.
Dengan memahami simbol tersebut maka membantu kita untuk dipahami dan memahami.
Smiley,
emoticon, dan emoji, dimaksudkan untuk
mengkomunikasikan emosi. Smiley atau emoticon adalah dideskripsikan dengan
standar karakter keyboard. Emoji
merupakan gambar mini atau wajah asli yang ditawarkan program komputer, tablet
atau smartphone sebagai fitur
standar. Emoji dapat merepresentasikan wajah manusia dan hewan, atau apapun yang
dipikirkan seperti bunga, hati, dan buah. Emoji
bersifat menyenangkan.
Gambar kecil mungkin tidak
senilai ribuan kata, tapi dapat menambah sebagai hal yang menyenangkan pada
kalimat yang dibuat. Emoticon dan emoji sebagian dapat menggantikan bunyi
suara, ekspresi wajah dan bahasa tubuh. Emoji,
emoticon dan lambang lain adalah upaya meyakinkan pembaca memahami apa yang
ingin kita coba katakan.
Sedangkan yang ketiga adalah kode
non-verbal merupakan makna universal. Keempat, kode non-verbal memungkinkan
adanya transmisi berkesinambungan dalam beberapa pesan.
Kode non-verbal memiliki dimensi
semantik, sintaksis dan pragmatis. Semantik mengacu pada makna dari sebuah
tanda. Sintaksis mengacu pada metode bagaimana tanda-tanda tersebut disusun ke
dalam sistem tanda lainnya. Pragmatik mengacu pada pengaruh atau pelaku yang
dimunculkan oleh sebuah atau sekelompok tanda.
Burgoon juga menggolongkan kode
non-verbal ke dalam tujuh jenis aktifitas yaitu kinesis (aktifitas tubuh), vokalis atau paralangue (suara), penampilan fisik, haptics (touch), proxemics
(ruang), chronemics (waktu) dan
artefak (objek).
Perspektif komunikasi.
Komunikasi memiliki definisi yang
bervariasi. Pada bagian pertama, penulis telah memberikan model-model
komunikasi dari berbagai situasi dan konteks sesuai dengan spesifikasi pencetus
model-model tersebut.
Miller (2005) mengatakan bahwa perspektif
merupakan cara kita memandang sesuatu. Fisher (1978) menggunakan istilah
perspektif interaksional yaitu merujuk pada sudut pandang dari komunikasi
manusia yang secara tidak langsung dibangun dari cabang sosiologi yaitu
interkasi simbolik. Simbolik yang dijelaskan di sini adalah bukan ditujukan pada
teori sosiologi, tetapi pada komunikasi manusia. Simbolik tersebut
diaplikasikan pada komunikasi.
Perspektif interaksional
mengutamakan kehormatan dan nilai manusia sebagai individu. Manusia mewujudkan
inti dari budaya, hubungan dan masyarakat, juga pikiran. Setiap bentuk
interaksi sosial dimulai dan diakhiri dengan mempertimbangkan manusia itu
sendiri.
Interaksionisme simbolik didasari
pada proses interpretasi seseorang. Dualisme penggunaan “saya” pada
interaksionisme simbolik berbeda dengan sosiologi. Penggunaan “saya” pada
interaksionisme simbolik mengacu pada kemampuan melakukan tingkah laku dan
konsep orang lain pada tataran sosial, definisi, perilaku, nilai dan penekanan
pada tingkah laku.
Keduanya memberikan gambaran proses
sosial bahwa yang satu dipengaruhi oleh yang lain, yaitu pengalaman dan reaksi
atau respon. Seseorang dapat mencapai pengembangan secara komprehensif hanya
melalui interaksi dengan orang lain. Seseorang membangun diri sendiri melalui
perilaku, respon dan interpretasi dari dalam diri juga orang lain.
Mead memetakan dua level
interaksi yaitu gesture dan simbol.
Sementara tidak berbeda dengan Blumer yang merujuk pada level interaksi non
simbolik dan interaksi simbol. Interaksi simbol merupakan proses sosial secara
internal yaitu indikasi diri dan interpretasi.
Hanya manusia yang mampu memiliki
kapasitas simbolik interaksional. Manusia merespon simbol-simbol dari orang
lain berdasarkan pada representasi simbol-simbol.
Mead juga mengatakan bahwa
manusia memiliki kemampuan sebagai anggota dari masyarakat yang lebih luas.
Mead memperkenalkan makna sebagai simbol yang dihubungkan pada proses
interpretasi. Makna merupakan hal-hal yang berhubungan dengan individu-individu
dan bukan didasari pada proses mental individu.
Pada interaksi simbolik, manusia
sebagai objek dan interpreter memerlukan orang lain untuk membangun lingkungan.
Interaksi simbolik merupakan penjelasan tindakan individu dalam bentuk
kelompok, keluarga, organisasi atau masyarakat. Blumer memaparkan bahwa proses
sosial dalam kelompok kehidupan yang membuat dan menegakan peraturan, bukan
sebaliknya.
Simbol adalah tindakan yang
merupakan representasi perilaku baik verbal maupun non verbal. Simbol merujuk pada
elemen bahasa melalui pembicaraan (yang diucapkan) atau tertulis.
Konseptualisasi Komunikasi.
Untuk memahami komunikasi lebih
lanjut, Miller (2005) memberikan konseptualisasi komunikasi yaitu secara
konvergen dan divergen.
Konseptualisasi komunikasi secara
konvergen (points of convergen):
Komunikasi adalah proses.
Komunikasi merupakan interaksi yang
bersifat kompleks, yaitu dipengaruhi oleh perilaku masa lalu masing-masing
individu yang memiliki hubungan dengan apa yang akan terjadi selanjutnya.
Komunikasi adalah transaksional.
Komunikasi memiliki feedback yaitu reaksi dari penerima. Komunikasi
transaksional melihat komunikasi sebagai proses yang memiliki pengaruh dan juga
keterlibatan masing-masing partisipan. Komunkasi sebagai transaksional
memberikan penekanan pada konteks yang terjadi dalam proses komunikasi. Masing-masing
partisipan mempengaruhi dan dipengaruhi pada saat mereka berinteraksi.
Komunikasi adalah simbolik.
Konsep tanda dipelajari pada
semiotika. Semiotika melihat tanda adalah hubungan antara yang memberikan tanda dan
penerima tanda. Langer (dalam Littlejohn) memberikan konsep bahwa tanda merupakan
signal tentang keberadaan sesuatu
yang lain. Sebuah tanda bisa saja memiliki arti yang berbeda untuk
masing-masing orang, karena simbol-simbol dibangun melalui pengalaman sosial.
Simbol-simbol tersebut dapat berupa verbal maupun non verbal.
Konseptualisasi komunikasi secara
divergen (points divergen):
Komunikasi adalah sebagai aktivitas
sosial.
Komunikasi melibatkan dua orang
atau lebih. Komunikasi sebagai alat manusia untuk berinteraksi satu dengan
lainnya. Komunikasi sebagai aktivitas sosial melihat pentingnya pengetahuan dan
psikologi internal pada proses komunikasi. Komunikasi merupakan bagian penting
dalam sosial karena dapat berdampak terhadap orang-orang di sekitar.
Pada tataran ini, komunikasi
melihat pada tingkatan bahasa yaitu semantik (hubungan antara tanda dan
pemaknaan), sintaktik (mempertimbangkan aturan-aturan penggunaan bahasa melalui
grammar) dan pragmatik (penggunaan bahasa)
Komunikasi dan tujuan.
Komunikasi merupakan proses
perpindahan pesan untuk memberikan pengaruh pada perilaku. Sehingga
mempertimbangkan persepsi penerima, strategi tujuan komunikasi dan pemaknaan.
Implikasi
Bahasa dan Komunikasi.
Dari tinjauan literatur pada bab
sebelumnya, komunikasi dan bahasa memiliki beberapa persamaan yang saling
berhubungan dalam konsep dasar maupun pandangan atau perspektifnya. Bahasa dan
komunikasi memiliki faktor yang tidak dapat dipisahkan yaitu manusia sebagai
individu dan makhluk sosial, yang berinteraksi dengan orang lain dan menjadi
anggota dari masyarakat.
Bahasa tidak terlepas dari
komunikasi, karena manusia berkomunikasi melalui bahasa. Adanya hubungan
komunikasi dan bahasa dapat dilihat melalui ilustrasi berikut ini:
Perspektif komunikasi yang
dipaparkan oleh Fisher memandang komunikasi sebagai interaksional simbolik
yaitu hubungan yang saling berinteraksi melalui proses kognitif
individu-individu. Individu berperan sebagai pemberi tanda sekaligus sebagai
interpreter.
Sementara itu tradisi semiotika yang
disebutkan oleh Craig dalam komunikasi merupakan tradisi yang melihat lambang
sebagai sesuatu yang mewakili obyek lain melalui tanda. Tanda menjadi bermakna
oleh proses kognitif individu yang berinteraksi dengan orang lain.
Lebih lanjut, Miller memberikan
konseptualisasi komunikasi yaitu
simbolik. Simbolik berarti melihat adanya hubungan antara tanda dan
pemberi tanda. Tanda adalah mewakili sesuatu dan hal ini dipelajari dalam
semiotika.
Komunikasi juga merupakan proses
yang mempunyai tujuan, yaitu memiliki dampak pada orang lain. Sehingga komunikasi
mempertimbangkan proses penerimaan, cara-cara atau strategi untuk mencapai
tujuan dan proses penerimaan melalui bahasa.
Teori-teori bahasa yang
dipaparkan oleh Langer, Saussure dan Burgoon merupakan teori-teori yang memberikan
kontribusi pada komunikasi.
Dengan
demikian implikasi teori-teori bahasa memberikan kontribusi terhadap komunikasi
yaitu dengan adanya teori-teori komunikasi:
Berelson and Stener (1964)
Communication: The transmission
of information, ideas, emotions, skill, etc., bby the use of symbols-words,
picture figures, graph, etc. it is the act or process of transmission thay is
usually called communication.
Gerbner (1966)
Communication is social
interaction through symbols and message systems.
Dance (1967)
Human communication is the
eliciting of a response through verbal symbols.
Martin and Anderson (1968)
Communication cannot be
understoop except as a dynamic process in which listener and speaker, reader
and writer act reciprocally, the speaker acting to provide direct and indirect
sensory stimulation of the listener; the listener acting on the stimulation by
taking it in, investing it with meaning by calling group images in the mind,
testing those image against present information and feelings and sooner or
later acting upon those images.
Hawes (1973)
Communication (is) patterned space-time
behavior with a symbolic referent.
Dengan demikian, teori komunikasi
dibangun dari teori bahasa dan komunikasi merupakan ilmu pengetahuan yang empiris
dan memberikan dampak efisien bagi manusia.
Daftar
Pustaka
Chaer, Abdul. 2007. Linguistik
Umum. Jakarta: Rineka Cipta.
Dua, Michael. 2007. Filsafat Ilmu
Pengetahuan. Yogyakarta: Titian Galang Printika.
Fisher, Aubrey. 1978.
Perspectives on Human Communication. Boston: McGraw Hill.
Griffin, Em. 2000. A First Look
at Communication Theory. Chicago: McGraw Hill.
Littlejohn, Stephen W. Foss,
Karen A. 2009. Theories of Human Communication. Jakarta: Salemba Humanika.
Yusuf Lubis, Akhyar. 2014.
Filsafat Ilmu: Klasik Hingga Kontemporer. Rajawali Press.
Miller, Katherine. 2005.
Communication Theories: Perspectives, Processes And Contexts. Chicago: McGraw
Hill.
Ruben, Brent D. 1992. Communication
and Human Behaviour. Prentice Hall.
Saussure de, Ferdinand. 1988.
Pengantar Linguistik Umum. Gajah Mada University Press.
Journal:
Goldsborough, Reid. Putting your
emotions on screen. Teacher Librarian. 43.1 (2015): 64
No comments:
Post a Comment