Wednesday, October 19, 2016

Bahasa Sebagai Fondasi Komunikasi.



Komunikasi merupakan hal yang mendasar dalam kehidupan manusia. Sebagai makhluk individu dan sosial, manusia tidak terlepas dari komunikasi. Komunikasi merupakan aspek penting yang berperan dalam perkembangan kepribadian manusia. Manusia dapat membangun hubungan dengan orang lain melalui komunikasi. Suatu organisasi melalui komunikasi dapat memotivasi karyawan sehingga meningkatkan kinerja perusahaan. Melalui komunikasi kita juga dapat menurunkan nilai-nilai dari generasi ke generasi dengan menggunakan media massa (Ruben: 1992).

Seiring dengan perkembangan teknologi komunikasi, internet memampukan setiap orang dapat berkomunikasi di belahan bumi manapun dan kapanpun. Komunikasi menjadi pusat kegiatan manusia. Dengan demikian dari penjelasan di atas dapat dipahami bahwa manusia tidak dapat tidak berkomunikasi seperti yang dikatakan oleh Watzlawick (1967).

Sejarah komunikasi sudah berlangsung sejak jaman Yunani Kuno yang berawal dari retorika. Aristoteles memandang komunikasi sebagai aktifitas verbal dari pembicara melalui upaya membujuk untuk mencapai tujuannya kepada pendengar melalui keahlian yang dibangun dari argumen dan disampaikan melalui bicara.

Teori-teori komunikasi pada awalnya melihat komunikasi sebagai proses  sederhana yang berlangsung satu arah. Pada tahun 1948, Laswell seorang ilmuwan politik memberikan pandangannya mengenai komunikasi yang dikenal dengan Model Laswell. Laswell menekankan pada elemen-elemen yang ada dalam komunikasi antara lain pembicara yang mempengaruhi audiens melalui pesan.

Selanjutnya komunikasi mengalami perluasan sejalan dengan perkembangan jurnalistik dan media massa yang dimulai dari pencetakan, radio dan televisi. Shannon dan Weaver memberikan pandangannya dari sudut pandang matematik. Shannon memperkenalkan bahwa komunikasi melibatkan tidak hanya tulisan dan berbicara saja. Mereka menambahkan elemen media massa di mana terdapat hambatan-hambatan. Sementara itu Model Schramm yang merupakan elaborasi dari Model Shannon dan Weaver memandang komunikasi dari proses perpindahan pesan.

Model-model komunikasi berikutnya memandang komunikasi sebagai proses yang berlangsung dua arah. Seperti yang diperkenalkan pada Model Katz dan Lazarfeld yang menambahkan elemen opinion leader, kemudian Model Westley dan Maclean memaparkan proses komunikasi yang memiliki feedback.

Model Berlo pada tahun 1960 diperkenalkan dengan memberikan penekanan pada elemen-elemen komunikasi yaitu source, message, channel dan receiver. Begitu pula dengan Model Dance yang memberikan konsep bahwa komunikasi itu kompleks dan merupakan proses yang evolusioner.

Pada tahun tersebut Watzlawick, Beavin dan Jackson memberikan pandangan komunikasi yang didasari oleh studi kejiwaan dan pengobatan. Komunikasi bukanlah sekedar penyampaian pesan yang memiliki tujuan, namun untuk memahami bagaimana komunikasi itu dapat berjalan, perlu mempertimbangkan faktor keterlibatan individu dalam membuat pemaknaan kata-kata dan perilaku.

Kemudian tahun 1970 merupakan periode meningkatnya berbagai pemahaman tentang interpersonal, kelompok, organisasi, politik, internasional, budaya dan masyarat. Lebih lanjut, pada tahun 1980, era informasi memberikan pengaruh besar terhadap perkembangan komunikasi sebagai interdisiplin ilmu.

Era informasi mengalami peningkatan oleh karena penggunaan media di berbagai situasi komunikasi. Era informasi melihat komunikasi sebagai suatu proses komoditi yang dipindahkan dari satu orang, kelompok, organisasi  atau masyarakat yang satu ke yang lainnya.

Selanjutnya, pendekatan komunikasi mengalami perluasan sehingga komunikasi merupakan ilmu yang multidisipliner. Perkembangan komunikasi meliputi perspektif pembuatan pesan, perpindahan, interpretasi dan penggunaan pesan oleh individu dalam hubungan kelompok, organisasi, budaya dan masyarakat.

Komunikasi sebagai interdisiplin ilmu, memberikan pengaruh dan memiliki pengaruh terhadap disiplin ilmu yang lain. Beberapa area studi yang memiliki hubungan pada komunikasi antara lain psikologi pengetahuan, budaya dan kritik, ekonomi, ilmu komputer dan engineering electrical, information science, jurnalisme, literature, dan marketing.

Filsafat dan Filsafat Ilmu Pengetahuan

Istilah filsafat pertama kali digunakan oleh Pythagoras pada abad ke-6 SM. Istilah tersebut berasal dari bahasa Yunani Kuno yaitu Philosophia dan philosofo yang berarti orang yang cinta pada kebijaksanaan atau cinta pada pengetahuan (Lubis: 2014).

Dalam filsafat, kegiatan mencintai pengetahuan/ kebijaksanaan itu dilakukan dengan komprehensif dan mendasar. Komprehensif yaitu melihat secara menyeluruh sementara mendasar adalah mencapai hakikat atau yang paling mendasar. Filsafat dipahami sebagai upaya terus  menerus mencari pengetahuan dan kebenaran. Tiga filsuf besar Yunani klasik yang paling banyak memengaruhi pemikiran filsafat masa abad pertengahan dan modern ialah Socrates, Plato dan Aristoteles.

Secara umum, pembagian atau pemetaan bidang filsafat secara garis besar dikelompokan menjadi tiga bidang yaitu ontologi, epistemology dan aksiologi. Ontologi adalah cabang filsafat yang membahas atau membicarakan masalah “ada”/ “realitas”. Epistemologi adalah cabang filsafat yang mengkaji tentang hakikat pengetahuan di mana yang terkait didalamnya adalah tentang logika, filsafat ilmu dan metodologi. Sedangkan aksiologi adalah cabang filsafat yang membahas tentang nilai (value) yang mengacu pada pengertian etis dan estetis, yang terkait dengan bidang etika dan estetika.

Filsafat ilmu pengetahuan adalah sebuah refleksi tentang ilmu pengetahuan empiris, tentang proposisi-proposisi dan kerangka paradigmatis yang ada didalamnya. Dengan demikian filsafat ilmu pengetahuan berkaitan dengan bagaimana ilmu pengetahuan dibangun, struktur logis dan proses penerimaan dalam masyarakat.

Sementara itu ilmu pengetahuan merupakan pengetahuan yang pasti yang didukung oleh penelitian dan refleksi yang dilakukan secara terus menerus terhadap pengetahuan yang sudah ada (Dua: 2007).  Dan ilmu pengetahuan memberikan dampak terhadap perkembangan kemanusiaan.

Bertrand Russel memberikan indikasi bahwa ilmu pengetahuan empiris dan perkembangannya memberikan jaminan bagi perkembangan kemanusiaan. Pertama ilmu pengetahuan memberikan dampak efisien terhadap kehidupan manusia. Sehingga ilmu pengetahuan memudahkan banyak pekerjaan manusia. Manusia dengan demikian memiliki teknik sebagai alat-alat untuk mencapai tujuan yang belum pernah ada.

Kedua, ilmu pengetahuan berfungsi besar bagi kehidupan manusia dan memiliki peran yang sebelumnya dipercayakan pada agama dan mitologi. Karena manusia harus mampu memisahkan antara urusan duniawi dan surgawi. Ilmu pengetahuan memberikan rekomendasi pada yang baik bagi manusia. Sedangkan yang ketiga, ilmu pengetahuan mampu memperbaiki pandangan manusia tentang dunia.

Filsafat dan Ilmu pengetahuan sama-sama mencari kebenaran. Perbedaannya adalah filsafat melihat pada konsep-konsep dan asumsi-asumsi dasar teori, sementara ilmu pengetahuan melihat pada fenomena. Filsafat ilmu pengetahuan memberikan metode untuk mendapat pengetahuan yang logis dan benar. Sehingga demikian filsafat ilmu pengetahuan memiliki prinsip kebenaran.

Ilmu Sosial

Ilmu pengetahuan secara sederhana dibagi ke dalam dua kelompok yaitu pertama kelompok ilmu pengetahuan alam (fisika, kimia, astronomi dan lain-lain) dan kedua adalah kelompok ilmu pengetahuan sosial budaya.

Kelompok ilmu pengetahuan alam memiliki tujuan penelitian yaitu mencari hukum-hukum (nomos). Metode yang sering digunakan adalah metode empiris kuantitatif dengan model penjelasan kausalitas atau sebab akibat tentang fenomena alam. Sementara itu kelompok ilmu sosial budaya menggunakan ilmu hermeneutika, fenomonologi atau metode kualitatif dan menggunakan bahasa deskriptif.

Ilmu sosial mempelajari aspek-aspek yang berhubungan dengan manusia dan sosialnya. Yaitu bagaimana manusia berinteraksi dengan orang lain. Ada tiga paradigma dalam ilmu menurut George Ritzer yaitu paradigma fakta sosial, paradigma definisi sosial dan paradigma perilaku sosial.

Paradigma fakta sosial yang dipengaruhi oleh positivisme Augus Comte mendasarkan pada fakta yang terobservasi dari realitas sosial yaitu fakta sosial, efek dan tindakan individu. Paradigma definisi sosial memberi fokus pada para pelaku sosial mendefinisikan situasi sosial, efeknya terhadap tindakan individu dan interaksinya. Sementara paradigma perilaku sosial mempunyai fokus pada tingkah laku yang teramati tanpa mempertimbangkan maknanya.

Beberapa cabang ilmu sosial antara lain antropologi (mempelajari segi kebudayaan masyarakat), sosiologi (mempelajari masyarakat dan hubungan manusia di dalamnya), ekonomi (mempelajari produksi dan pembagian kekayaan dalam masyarakat), linguistik (mempelajari aspek kognitif dan sosial dari bahasa). 

Ciri dan karakteristik bahasa.

Bahasa berasal dari Sansekerta, yang berarti kemampuan yang dimiliki manusia untuk dipergunakan bertutur dengan manusia lainnya dengan tanda, misalnya kata dan gerakan. Bahasa sering dikatakan sebagai alat komunikasi, namun pada dasarnya bahasa adalah kompleks. Dengan bahasa, manusia dapat memahami apa yang ingin disampaikan sehingga memastikan kepastian dalam pemahamannya (Chaer: 2007).

Bahasa digunakan oleh manusia sehari-hari sebagai makhluk sosial untuk berinteraksi satu sama lain. Fungsi bahasa antara lain untuk menyampaikan informasi dari seseorang kepada orang lain. Bahasa juga merupakan cara seseorang mengekspresikan dirinya untuk menyatakan keberadaan dirinya. Melalui bahasa seseorang juga bisa beradaptasi dan menjadi bagian dari suatu  masyarakat. Sebagai kontrol sosial di dalam masyarakat bahasa dapat memengaruhi orang lain. Selain itu bahasa juga berfungsi sebagai hiburan.

Dengan demikian bahasa berkaitan dengan individu dan masyarakat atau sosial di mana individu menjadi bagian didalamnya. Dan perlu dipahami bahwa bahasa bersifat manusiawi karena bahasa hanya digunakan oleh manusia sebagai makhluk yang memiliki kemampuan kognitif, yang mengelola melalui otak dan pikiran.

Manusia sebagai bagian dari kehidupan bermasyarakat selalu berubah. Dalam arti kehidupan masyarakat itu mengalami perkembangan dari suatu waktu ke waktu lain. Sehingga manusia adalah makhluk yang dinamis. Begitu pula dengan bahasa. Bahasa bersifat dinamis karena bahasa mengikuti perkembangan dari masyarakat.

Terdapat ribuan variasi bahasa di dunia, karenanya bahasa dipahami berbeda di tiap-tiap tempat. Bahasa itu unik karena selain setiap orang memiliki logat yang berbeda, begitu pula dengan tiap daerah yang memiliki dialek berbeda satu dengan yang lain. Namun perlu digarisbawahi bahwa bahasa bersifat universal dalam artian bahasa memiliki ciri dan karakter yang sama yang dipahami dan disetujui bersama.

Bahasa memiliki sistem, ini berarti bahwa bahasa merupakan susunan yang teratur dan memiliki pola sehingga membentuk suatu makna. Bahasa terdiri dari unsur-unsur atau komponen-komponen teratur dengan pola tertentu yang membentuk kesatuan. Bahasa memiliki unsur-unsur terbatas, namun dengan keterbatasannya bahasa mampu memproduksi satuan-satuan bahasa yang jumlahnya tidak terbatas.

Bahasa bersifat sistematis dan sistemis. Sistemis artinya bahasa tersusun menurut satu pola teratur, tidak acak atau sembarangan. Sedangkan sistematis berarti bahasa bukan sistem yang tunggal. Bahasa memiliki sub sistem yaitu fonologi, morfologi, sintaktis dan semantik.

Bahasa  diwujudkan dalam lambang-lambang. Ilmu yang mengkaji lambang-lambang disebut dengan semiotika, yaitu ilmu yang mempelajari tanda-tanda dalam kehidupan manusia. Semiotika membedakan beberapa tanda yaitu tanda (sign), lambang (symbol), sinyal (signal), gejala (symptom), gerak isyarat (gesture), kode, indeks dan ikon. Lambang bersifat arbitrer yaitu antara lambang dan makna tidak harus berhubungan langsung.

Lambang merupakan salah satu karakter bahasa. Lambang memiliki pengertian, konsep, ide atau pemikiran. Begitu pula dengan bunyi. Bahasa dapat diwujudkan berupa bunyi. Lambang dan bunyi sama sama memberikan suatu makna.Bahasa bersifat konvensional. Ini berarti semua anggota masyarakat bahasa itu mematuhi konvensi bahwa lambang tertentu itu digunakan untuk mewakili konsep yang diwakilinya.

Dari kajian di atas dapat dilihat bahwa bahasa merupakan alat manusia dalam berkomunikasi dimana didalamnya mengandung unsur manusia sebagai makhluk individu dan sosial dan bahasa memiliki wujud yang dipahami dan dipelajari bersama di dalam suatu budaya.

Pendekatan bahasa.

Terdapat pendekatan-pendekatan yang berhubungan dengan ilmu bahasa (Fisher: 1978).
Bahasa memiliki struktur dan digunakan dalam struktur sosial maupun institusi sosial.  Struktur bahasa memiliki interaksi dengan pembentukan budaya dan fungsi bahasa di dalam konflik sosial, kontrol sosial, status sosial dan solidaritas kelompok. Sistem bahasa berbeda satu dengan yang lain.

Pendekatan studi bahasa melibatkan observasi langsung dari struktur atau sintaktik bahasa yang berkaitan dengan aspek-aspek semantik atau pemaknaan yang secara implisit mengandung sturktur. Walaupun pendekatan ini tidak bisa dipisahkan dari budaya, namun penekanannya adalah kepada pemahaman semantik (makna) sebagai aspek bahasa dibandingkan sebagai institusi sosial.

Pendekatan ketiga melihat penerimaan dan pembangunan bahasa pada komunitas bahasa tertentu. Ilmu bahasa melihat pola ketika seseorang menjadi bagian dari sistem.
Pendekatan keempat yaitu melihat studi bahasa sebagai semantik umum. Penggunaan semantik dalam ilmu bahasa adalah untuk dapat mengecilkan ketidaksepahaman dari pengunaan bahasa masing-masing individu.

Teori-Teori Bahasa

Teori Simbol Sussane Langer.
Teori simbol Sussane Langer merupakan teori yang memberikan standarisasi untuk tradisi semiotik dalam kajian komunikasi. Perasaan manusia dimediasikan oleh konsepsi, simbol dan bahasa. Manusia mengolah tanda dengan cara yang kompleks, yaitu mempergunakan simbol-simbol.

Tanda (sign) adalah sebuah stimulus yang menandakan kehadiran suatu hal. Sebuah tanda memiliki hubungan dengan makna dari kejadian sebenarnya. Hubungan antara makna dan kejadian sebenarnya disebut dengan pemaknaan (signification).

Simbol digunakan dengan cara yang lebih kompleks dengan membuat seseorang untuk berpikir tentang sesuatu yang terpisah dari kehadirannya. Simbol adalah instrumen pemikiran dan simbol adalah konseptualisasi manusia tentang suatu hal.

Sebuah simbol atau kumpulan simbol-simbol bekerja dengan menghubungkan sebuah konsep, ide umum, pola atau bentuk. Menurut Langer konsep adalah makna yang disepakati bersama-sama diantara pelaku komunikasi. Makna yang disetujui disebut dengan makna denotatif sementara makna pribadi adalah makna konotatif.

Penggunaan simbol pada manusia memiliki fakta bahwa tidak ada hubungan langsung simbol dan objek sebenarnya dan juga simbol yang digunakan dalam kombinasi.

Teori Bahasa.
Ferdinand de Saussure (1988) memberikan konsep bahasa sebagai obyek yang diteliti yaitu langue, parole dan langage. Saussure menggunakan tanda untuk ungkapan dalam bahasa dan membuat adanya pembeda bahasa formal (langue) dengan kegunaan bahasa sebenarnya dalam komunikasi (parole) yaitu pengucapan. Langue adalah keseluruhan kebiasaan yang diperoleh secara pasif yang diajarkan oleh masyarakat bahasa, yang memungkinkan para penutur saling memahami dan menghasilkan unsur-unsur yang dipahami penutur dalam masyarakat. Dan linguistik merupakan kajian dari bahasa formal.
Parole merupakan hasil manifestasi individu dari bahasa. Parole tidak dapat dimasukan ke dalam fakta-fakta manusia karena tidak dapat mengungkap kesatuannya. Dalam bahasa formal, parole memperhatikan hal yang berbentuk bahasa seperti pengucapan, kata-kata dan tata bahasa. Sementara itu gabungan antara parole dan kaidah bahasa disebut langage.

Teori-teori Sistem Non-verbal
Teori-teori tanda non-verbal merupakan elemen penting dalam tradisi semiotik. Hal ini dikarenakan adanya anggapan bahwa bahasa dan perilaku seringkali tidak bekerja bersama.
Kode non-verbal adalah kumpulan perilaku yang digunakan untuk menyampaikan arti. Judee Burgoon menggolongkan sistem kode non-verbal memiliki beberapa struktur sifat. Pertama kode non-verbal cenderung analog karena sinyalnya yang berkesinambungan, membentuk sebuah tingkatan atau spektrum seperti volume suara atau intensitas cahaya.

Kedua adalah kemiripan (iconicity), kode ikon menyerupai benda yang disimbolkan. Reid Goldsborough memaparkan bahwa tampilan wajah lucu (funny face) dan simbol-simbol yang dilihat atau digunakan pada teks, chats, posts, dan email merupakan hal yang paling membedakan pada komunikasi online. Dengan memahami simbol tersebut maka membantu kita untuk dipahami dan memahami.
Smiley, emoticon, dan emoji, dimaksudkan untuk mengkomunikasikan emosi. Smiley atau emoticon adalah dideskripsikan dengan standar karakter keyboard. Emoji merupakan gambar mini atau wajah asli yang ditawarkan program komputer, tablet atau smartphone sebagai fitur standar. Emoji dapat merepresentasikan wajah manusia dan hewan, atau apapun yang dipikirkan seperti bunga, hati, dan buah. Emoji bersifat menyenangkan.

Gambar kecil mungkin tidak senilai ribuan kata, tapi dapat menambah sebagai hal yang menyenangkan pada kalimat yang dibuat. Emoticon dan emoji sebagian dapat menggantikan bunyi suara, ekspresi wajah dan bahasa tubuh. Emoji, emoticon dan lambang lain adalah upaya meyakinkan pembaca memahami apa yang ingin kita coba katakan.

Sedangkan yang ketiga adalah kode non-verbal merupakan makna universal. Keempat, kode non-verbal memungkinkan adanya transmisi berkesinambungan dalam beberapa pesan.
Kode non-verbal memiliki dimensi semantik, sintaksis dan pragmatis. Semantik mengacu pada makna dari sebuah tanda. Sintaksis mengacu pada metode bagaimana tanda-tanda tersebut disusun ke dalam sistem tanda lainnya. Pragmatik mengacu pada pengaruh atau pelaku yang dimunculkan oleh sebuah atau sekelompok tanda.

Burgoon juga menggolongkan kode non-verbal ke dalam tujuh jenis aktifitas yaitu kinesis (aktifitas tubuh), vokalis atau paralangue (suara), penampilan fisik, haptics (touch), proxemics (ruang), chronemics (waktu) dan artefak (objek).

Perspektif komunikasi.

Komunikasi memiliki definisi yang bervariasi. Pada bagian pertama, penulis telah memberikan model-model komunikasi dari berbagai situasi dan konteks sesuai dengan spesifikasi pencetus model-model tersebut.
Miller (2005) mengatakan bahwa perspektif merupakan cara kita memandang sesuatu. Fisher (1978) menggunakan istilah perspektif interaksional yaitu merujuk pada sudut pandang dari komunikasi manusia yang secara tidak langsung dibangun dari cabang sosiologi yaitu interkasi simbolik. Simbolik yang dijelaskan di sini adalah bukan ditujukan pada teori sosiologi, tetapi pada komunikasi manusia. Simbolik tersebut diaplikasikan pada komunikasi.

Perspektif interaksional mengutamakan kehormatan dan nilai manusia sebagai individu. Manusia mewujudkan inti dari budaya, hubungan dan masyarakat, juga pikiran. Setiap bentuk interaksi sosial dimulai dan diakhiri dengan mempertimbangkan manusia itu sendiri.

Interaksionisme simbolik didasari pada proses interpretasi seseorang. Dualisme penggunaan “saya” pada interaksionisme simbolik berbeda dengan sosiologi. Penggunaan “saya” pada interaksionisme simbolik mengacu pada kemampuan melakukan tingkah laku dan konsep orang lain pada tataran sosial, definisi, perilaku, nilai dan penekanan pada tingkah laku.

Keduanya memberikan gambaran proses sosial bahwa yang satu dipengaruhi oleh yang lain, yaitu pengalaman dan reaksi atau respon. Seseorang dapat mencapai pengembangan secara komprehensif hanya melalui interaksi dengan orang lain. Seseorang membangun diri sendiri melalui perilaku, respon dan interpretasi dari dalam diri juga orang lain.

Mead memetakan dua level interaksi yaitu gesture dan simbol. Sementara tidak berbeda dengan Blumer yang merujuk pada level interaksi non simbolik dan interaksi simbol. Interaksi simbol merupakan proses sosial secara internal yaitu indikasi diri dan interpretasi.

Hanya manusia yang mampu memiliki kapasitas simbolik interaksional. Manusia merespon simbol-simbol dari orang lain berdasarkan pada representasi simbol-simbol.
Mead juga mengatakan bahwa manusia memiliki kemampuan sebagai anggota dari masyarakat yang lebih luas. Mead memperkenalkan makna sebagai simbol yang dihubungkan pada proses interpretasi. Makna merupakan hal-hal yang berhubungan dengan individu-individu dan bukan didasari pada proses mental individu.

Pada interaksi simbolik, manusia sebagai objek dan interpreter memerlukan orang lain untuk membangun lingkungan. Interaksi simbolik merupakan penjelasan tindakan individu dalam bentuk kelompok, keluarga, organisasi atau masyarakat. Blumer memaparkan bahwa proses sosial dalam kelompok kehidupan yang membuat dan menegakan peraturan, bukan sebaliknya.

Simbol adalah tindakan yang merupakan representasi perilaku baik verbal maupun non verbal. Simbol merujuk pada elemen bahasa melalui pembicaraan (yang diucapkan) atau tertulis.

Konseptualisasi Komunikasi.
Untuk memahami komunikasi lebih lanjut, Miller (2005) memberikan konseptualisasi komunikasi yaitu secara konvergen dan divergen.
Konseptualisasi komunikasi secara konvergen (points of convergen):
Komunikasi adalah proses.
Komunikasi merupakan interaksi yang bersifat kompleks, yaitu dipengaruhi oleh perilaku masa lalu masing-masing individu yang memiliki hubungan dengan apa yang akan terjadi selanjutnya.
Komunikasi adalah transaksional.
Komunikasi memiliki feedback yaitu reaksi dari penerima. Komunikasi transaksional melihat komunikasi sebagai proses yang memiliki pengaruh dan juga keterlibatan masing-masing partisipan. Komunkasi sebagai transaksional memberikan penekanan pada konteks yang terjadi dalam proses komunikasi. Masing-masing partisipan mempengaruhi dan dipengaruhi pada saat mereka berinteraksi.
Komunikasi adalah simbolik.
Konsep tanda dipelajari pada semiotika. Semiotika melihat tanda adalah  hubungan antara yang memberikan tanda dan penerima tanda. Langer (dalam Littlejohn) memberikan konsep bahwa tanda merupakan signal tentang keberadaan sesuatu yang lain. Sebuah tanda bisa saja memiliki arti yang berbeda untuk masing-masing orang, karena simbol-simbol dibangun melalui pengalaman sosial. Simbol-simbol tersebut dapat berupa verbal maupun non verbal.
Konseptualisasi komunikasi secara divergen (points divergen):
Komunikasi adalah sebagai aktivitas sosial.
Komunikasi melibatkan dua orang atau lebih. Komunikasi sebagai alat manusia untuk berinteraksi satu dengan lainnya. Komunikasi sebagai aktivitas sosial melihat pentingnya pengetahuan dan psikologi internal pada proses komunikasi. Komunikasi merupakan bagian penting dalam sosial karena dapat berdampak terhadap orang-orang di sekitar.
Pada tataran ini, komunikasi melihat pada tingkatan bahasa yaitu semantik (hubungan antara tanda dan pemaknaan), sintaktik (mempertimbangkan aturan-aturan penggunaan bahasa melalui grammar) dan pragmatik  (penggunaan bahasa)

Komunikasi dan tujuan.
Komunikasi merupakan proses perpindahan pesan untuk memberikan pengaruh pada perilaku. Sehingga mempertimbangkan persepsi penerima, strategi tujuan komunikasi dan pemaknaan.

Implikasi Bahasa dan Komunikasi.
Dari tinjauan literatur pada bab sebelumnya, komunikasi dan bahasa memiliki beberapa persamaan yang saling berhubungan dalam konsep dasar maupun pandangan atau perspektifnya. Bahasa dan komunikasi memiliki faktor yang tidak dapat dipisahkan yaitu manusia sebagai individu dan makhluk sosial, yang berinteraksi dengan orang lain dan menjadi anggota dari masyarakat.
Bahasa tidak terlepas dari komunikasi, karena manusia berkomunikasi melalui bahasa. Adanya hubungan komunikasi dan bahasa dapat dilihat melalui ilustrasi berikut ini:

Perspektif komunikasi yang dipaparkan oleh Fisher memandang komunikasi sebagai interaksional simbolik yaitu hubungan yang saling berinteraksi melalui proses kognitif individu-individu. Individu berperan sebagai pemberi tanda sekaligus sebagai interpreter.

Sementara itu tradisi semiotika yang disebutkan oleh Craig dalam komunikasi merupakan tradisi yang melihat lambang sebagai sesuatu yang mewakili obyek lain melalui tanda. Tanda menjadi bermakna oleh proses kognitif individu yang berinteraksi dengan orang lain.

Lebih lanjut, Miller memberikan konseptualisasi komunikasi yaitu  simbolik. Simbolik berarti melihat adanya hubungan antara tanda dan pemberi tanda. Tanda adalah mewakili sesuatu dan hal ini dipelajari dalam semiotika.

Komunikasi juga merupakan proses yang mempunyai tujuan, yaitu memiliki dampak pada orang lain. Sehingga komunikasi mempertimbangkan proses penerimaan, cara-cara atau strategi untuk mencapai tujuan dan proses penerimaan melalui bahasa.
Teori-teori bahasa yang dipaparkan oleh Langer, Saussure dan Burgoon merupakan teori-teori yang memberikan kontribusi pada komunikasi.

Dengan demikian implikasi teori-teori bahasa memberikan kontribusi terhadap komunikasi yaitu dengan adanya teori-teori komunikasi:
Berelson and Stener (1964)
Communication: The transmission of information, ideas, emotions, skill, etc., bby the use of symbols-words, picture figures, graph, etc. it is the act or process of transmission thay is usually called communication.
Gerbner (1966)
Communication is social interaction through symbols and message systems.
Dance (1967)
Human communication is the eliciting of a response through verbal symbols.
Martin and Anderson (1968)
Communication cannot be understoop except as a dynamic process in which listener and speaker, reader and writer act reciprocally, the speaker acting to provide direct and indirect sensory stimulation of the listener; the listener acting on the stimulation by taking it in, investing it with meaning by calling group images in the mind, testing those image against present information and feelings and sooner or later acting upon those images.
Hawes (1973)
Communication (is) patterned space-time behavior with a symbolic referent.
Dengan demikian, teori komunikasi dibangun dari teori bahasa dan komunikasi merupakan ilmu pengetahuan yang empiris dan memberikan dampak efisien bagi manusia.

Daftar Pustaka
Chaer, Abdul. 2007. Linguistik Umum. Jakarta: Rineka Cipta.
Dua, Michael. 2007. Filsafat Ilmu Pengetahuan. Yogyakarta: Titian Galang Printika.
Fisher, Aubrey. 1978. Perspectives on Human Communication. Boston: McGraw Hill.
Griffin, Em. 2000. A First Look at Communication Theory. Chicago: McGraw Hill.
Littlejohn, Stephen W. Foss, Karen A. 2009. Theories of Human Communication. Jakarta: Salemba Humanika.
Yusuf Lubis, Akhyar. 2014. Filsafat Ilmu: Klasik Hingga Kontemporer. Rajawali Press.
Miller, Katherine. 2005. Communication Theories: Perspectives, Processes And Contexts. Chicago: McGraw Hill.
Ruben, Brent D. 1992. Communication and Human Behaviour. Prentice Hall.
Saussure de, Ferdinand. 1988. Pengantar Linguistik Umum. Gajah Mada University Press.
Journal:
Goldsborough, Reid. Putting your emotions on screen. Teacher Librarian. 43.1 (2015): 64



No comments:

Post a Comment