Thursday, October 20, 2016

Pemahaman Wacana Full Day School Melalui Hermenetika Gadamer.

Presiden Republik Indonesia,  Joko Widodo mengumumkan perubahan Kabinet  Kerja  pada  27 Juli 2016 yang lalu di Istana Merdeka. Sejumlah menteri mengalami pergeseran dan juga masuknya nama-nama baru dalam jajaran menteri. Perombakan kabinet kerja tersebut seperti diungkapkan oleh Joko Widodo pada m.tempo.co (18/08/2016) adalah dalam rangka mengurangi kesenjangan ekonomi antara  yang kaya dan miskin. Lebih lanjut dijelaskan beliau perombakan tersebut diharapkan dapat menyelesaikan masalah perekonomian bangsa Indonesia.
Salah satu menteri baru yang masuk dalam jajaran Kabinet Kerja kedua adalah Muhadjir Effendi, di mana beliau resmi menjadi Menteri pendidikan dan Kebudayaan yang sebelumnya dijabat  oleh Anies Baswedan. Menteri Sekretaris Negara, Pratikno dalam memperkenalkan menteri baru memaparkan kualifikasi Muhajir Effendi yang mumpuni dalam bidang pendidikan. Selain memiliki pengalaman dalam pendidikan tinggi, Muhadjir juga membawa peningkatan prestasi dalam berbagai organisasi yang dipimpinnya (okezone.com, 27/7/2016)
Muhadjir merupakan mantan Rektor Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dan memulai karirnya sebagai karyawan honorer, dosen hingga kemudian terpilih menjadi rektor kelima  UMM pada tahun 2000. Selain mengajar di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UMM, Muhajir juga adalah dosen tetap Fakultas Ilmu Pendidikan  Program Studi Pendidikan Luar Sekolah, Universitas Negeri Malang (republika.co.id, 27/7/2016).
Muhadjir meraih gelar doktor bidang sosiologi militer di program doktor Universitas Airlangga pada tahun 2008. Selain sosiolog yang ahli dalam bidang militer, Muhajir juga merupakan intelektual muslim. Saat ini Muhadjir menjabat sebagai Ketua PP Muhammadiyah bidang  pendidikan  dan aktif dalam sejumlah organisasi sosial lain seperti Badan Narkotika Nasional, Himpunan Mahasiswa Indonesia, dan lain-lain.
Semasa kuliah, Muhadjir menekuni profesi sebagai wartawan di beberapa Koran hingga kemudian Muhadjir juga dikenal sebagai kolumnis yang banyak menyoroti masalah agama, pendidikan, sosial, politik, dan militer.
Minggu, 7 Agustus 2016, usai menjadi pembicara dalam pengajian untuk keluarga besar Muhammadiyah di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), di Malang, Mendikbud  menggagas sistem “Full Day School” untuk pendidikan tingkat SD dan SMP baik negeri maupun swasta di Indonesia. Wacana tersebut dilontarkan Kemdikbud seperti dilansir dalam beritasatu.com (7/8/2016) sebagai upaya merestorasi pendidikan dasar dan menengah (SD-SMP), termasuk pendidikan karakter.
Gagasan full day school kemudian menjadi satu bahan pemberitaan media yang kemudian menjadi  perbincangan publik. Baik kalangan pemerintah, penyelenggara pendidikan maupun lingkungan yang berkaitan dengan pelaksanaan pendidikan ikut ambil bicara.
Pasalnya, pendidikan di Indonesia hingga saat ini mengalami perubahan pada sistem pembelajaran tiap tahunnya, hingga ada anggapan “menteri baru kebijakan baru”. Pendidikan di Indonesia juga merupakan satu fenomena yang terus menjadi perhatian masyarakat. Selain sistem pendidikan yang belum memiliki standar, karena perubahan yang terjadi terus menerus, kualitas pendidikan di Indonesia pun masih dipertanyakan.
Ketika berbagai kalangan memberikan respon terhadap wacana full day school, masing-masing memaknai wacana tersebut. Sementara itu berangkat dari pemahaman yang ingin dicapai berdasarkan tujuan penulis, maka penulis akan membangun pemahaman dengan pendekatan hermenetika Gadamer. Melalui hermenetika Gadamer, kita dapat membangun makna melalui realitas yang ada.

Hermenetika dalam Perspektif Komunikasi

Hermeneutika berasal dari Bahasa Yunani, hermeneuo yang berarti mengartikan, menginterpretasikan, menafsirkan, menerjemahkan . Istilah Hermenetika berasal dari nama Dewa Hermes yang mempunyai tugas menerjemahkan pesan-pesan dewa untuk dapat dimengerti oleh manusia.
Hermes memiliki kemampuan tersebut sehingga mampu menjembatani apa yang disebut “gap ontologis”, yaitu gap antara pemikiran alam dewa dengan pemikiran atau alam manusia.
Tugas hermeneutika, seperti tugas Dewa Hermes adalah menjembatani gap antara ontology (realitas) dengan apa yang ada di permukaan (fenomena). Sehingga terjadi verifikasi sesuatu yang tampak di permukaan dengan substansi atau realitas yang merupakan “ada” atau being yang sesungguhnya (Putra, 2012).
Lasswell (1948) mendefinisikan komunikasi “Who- says what- to whom, in what channel- with what effect” (Siapa berkata apa, melalui apa kepada siapa dengan efek apa). Laswell seorang ilmuwan politik memberikan pandangannya mengenai komunikasi yang dikenal dengan Model Laswell. Laswell menekankan pada elemen-elemen yang ada dalam komunikasi antara lain pembicara yang mempengaruhi audiens melalui pesan (Ruben: 1992).
Untuk memahami komunikasi lebih lanjut, dalam konseptualisasi komunikasi secara divergen (point of divergence), komunikasi merupakan proses perpindahan pesan untuk memberikan pengaruh pada perilaku. Sehingga mempertimbangkan persepsi penerima, strategi tujuan komunikasi dan pemaknaan (Miller; 2005).
Pesan merupakan bagian dari proses komunikasi yang disampaikan kepada orang lain. Kemudian  orang lain mengartikan makna dari pesan tersebut. Dengan demikian, wacara full day school yang digagas oleh Muhadjir Effendi merupakan pesan yang disampaikan kepada publik yang kemudian diinterpretasikan atau dipahami dari berbagai sudut pandang.
Hans George Gadamer, menyatakan bahwa individu tidak berdiri terpisah dari segala sesuatu untuk menganalisis dan menafsirkannya; malahan kita menafsirkannya secara alami sebagai bagian dari keberadaan kita sehari-hari (Littlejohn: 2009).
Prinsip utama teori Gadamer adalah bahwa seseorang selalui memahami pengalaman dari sudut pandang perkiraan dan asumsi. Kerangka interpretatif itu sendiri terdiri dari pengalaman, sejarah dan tradisi yang merupakan cara-cara dalam memahami.
Pada kajian komunikasi, proses interpretasi merupakan penekanan pada tradisi fenomenologis, di mana teori-teori fenomenologis melihat interpretasi sebagai sebuah proses pemahaman yang sadar dan hati-hati. Hermeneutika, diartikan sebagai penafsiran teks yang sengaja dan hati-hati merupakan dasar bagi tradisi fenomenologis dalam penelitian pesan (Littlejohn: 2009).
Pemahaman merupakan fokus dari hermeneutika. Hans- Georg Gadamer melihat pemahaman merupakan suatu proses holistik yang terjadi dalam suatu siklus hermeneutik antara bagian-bagian teks dan pandangan kita (dengan seluruh dimensi personal, historis dan sosial) tentang teks tersebut sebagai keseluruhan (Dua: 2007).
Wacana “Full Day School” merupakan teks yang perlu dipahami oleh peneliti melalui siklus atau lingkaran hermeneutika, yaitu yang terjadi pada bagian-bagiannya, pandangan penulis maupun pandangan subyek-subyek yang menginterpretasikan wacana tersebut.
Untuk membangun pemahaman melalui subyek-subyek tersebut penulis menggunakan “framing” atau pengerangkaan yang digagas oleh Todd Gitlin (Littlejohn: 2009).  Pengerangkaan dilakukan oleh media massa dalam hal ini media digital, yaitu melalui situs-situs yang menampilkan berita-berita terkait wacana full day school.
Konsep Framing berfokus pada sebuah proses yang komunikatif, di mana komunikasi merupakan proses dinamis yang melibatkan frame building (faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas struktur bingkai berita) dan frame setting yang mengacu pada adanya interaksi antara bingkai media dan pengetahuan individu-individu dan predisposisi yang ada (de Vreese: 2005).
Penulis menentukan subyek yang memberikan pemahamannya yaitu kalangan pemerintah di mana subyek ini memberikan interpretasi wacana full day school di sekolah yang ada di daerah atau luar Jakarta.  Kedua, adalah interpretasi dari guru sebagai pelaksana dari pendidikan. Dan yang ketika, adalah orangtua.
Tradisi dan teori-teori fenomenologi merupakan pra pemahaman di dalam proses hermeneutika. Di mana fungsi dari pra pemahaman menurut Gadamer adalah untuk memiliki pemahaman yang lebih jelas dari realitas (Dua: 2007)

Pemahaman teks wacana Full Day School melalui para subyek.

Wacana yang dicetuskan oleh Muhadjir Effendi memiliki arti dari teks itu sendiri. Dalam mencetuskan gagasan tersebut tentunya memiliki alasan-alasan. Untuk itu kita perlu melihat terlebih dahulu makna teks dari pembuat teks itu sendiri.
Full day school merupakan upaya dalam merestorasi pendidikan dasar dan menengah (SD-SMP) di Indonesia (Kompas, 8/8/2016). Upaya tersebut juga termasuk pendidikan karakter bagi anak didik.
Muhadjir mengungkapkan alasan yaitu untuk menyesuaikan waktu antara anak dengan orangtua. Pada saat anak pulang sekolah, orangtua tidak ada di rumah. Sehingga berdampak kurangnya pengawasan terhadap anak.
Melalui full day school anak dapat memanfaatkan waktu seperti menyelesaikan tugas di sekolah maupun mengikuti kegiatan ekstrakurikuler. Sekolah menyelenggarakan berbagai kegiatan ekstrakurikuler untuk anak didik.
Bagi Gadamer, interpretasi tidak sama dengan mengambil teks, lalu mencari arti yang oleh si pengarang diletakan dalam teks itu (Bertens: 1981). Arti sebuah teks bersifat terbuka dan tidak terbatas pada maksud pengarang teks. Sehingga dengan demikian teks tidak hanya bersifat reproduktif tapi juga produktif.
Pemahaman menurut Gadamer selalu berada dalam dialog (Dua: 2007). Merupakan persetujuan bersama. Verstehen ist sich miteinander verstehen, pemahaman adalah mengerti satu sama lain.
Untuk itu kita perlu memahami wacana full day school dari beberapa subyek berikut ini. Pemahaman itu tidak bersifat individual tetapi komunal. Dengan demikian pemahaman ada pada subyek-subyek.
Wacana full day school dipahami oleh Bupati Purwakarta, Dedi Mulyadi tidak cocok diterapkan di luar Jakarta (Kompas, 9/8/2016). Wacana tersebut cocok untuk kondisi kultur di Jakarta sebagai kota besar. Orangtua di Jakarta memiliki kegiatan yang sibuk dengan pekerjaan.  Dalam hal pekerjaan, profesi orangtua di pedesaan adalah petani atau nelayan. Dengan masa belajar saat ini yaitu Pukul 06.00 hingga 11.00, anak membantu orangtua selepas sekolah.
Begitu pula dengan keadaan demografis di Indonesia bagian timur seperti Papua. Jarak antara sekolah dengan rumah sangat jauh. Sehingga perlu mempertimbangkan waktu yang diperlukan anak untuk sampai di rumah ketika seharian berada di sekolah.
Hal tersebut juga cocok diterapkan jika fasilitas sekolah memadai. Fasilitas tersebut merupakan fasilitas pendukung kegiatan belajar mengajar dan juga ekstrakurikulernya misalnya PMR, Pramuka, Paskibra dan lainnya. Sehingga anak didik tidak hanya terfokus pada buku tetapi juga dapat menyalurkan bakat.
Dedy Mulyadi memaknai wacana melalui tradisi-tradisi yang ada di daerah pedesaan. Karena tradisi yang ada di Jakarta berbeda jika dibandingkan dengan di daerah-daerah.
Pengalaman yang ada di sekolah daerah juga berbeda dengan yang ada di Jakarta khususnya. Berangkat dari perbedaan itu, Dedy memberikan pemahaman terhadap wacana full day school.
            Makna orisinal adalah makna yang dipahami dengan vorrurteil historis dan psikologis (Dua: 2007). Terbangun dari  para pendukung atau dari orang-orang yang tidak menyetujui.
Untuk memahami lebih lanjut, kita perlu melihat pemahaman dari pendukung wacana full day school. Jusuf Kalla yang saat ini menjabat sebagai Wakil Presiden Republik Indonesia mendukung wacana full day school (metrotvnews.com, 10/8/2016). Beliau mengatakan bahwa hal itu sudah dilaksanakan oleh banyak sekolah terutama oleh sekolah swasta . Sistim tersebut akan memberikan kesempatan kepada sekolah untuk menanamkan pendidikan karakter.
            Jusuf Kalla juga berpendapat hal tersebut adalah untuk menghindari adanya penyimpangan yang terjadi di luar jam sekolah. Dengan waktu sekolah yang menurutnya perlu di uji coba dulu, ketika full day school diterapkan, siswa dapat menikmati waktu bersama keluarga karena Sabtu dan Minggu adalah hari libur.
            Tidak dapat dipungkiri bahwa bangsa Indonesia mengalami banyak penyimpangan yang terjadi pada anak-anak sekolah ketika tidak berada di sekolah. Beberapa kasus seperti kenakalan remaja dalam bentuk tawuran, penyalahgunaan obat terlarang, menghabiskan waktu bermain game online di tempat penyewaan, hingga pornografi sangat marak dalam fenomena remaja saat ini.
            Jusuf Kalla melihat wacana full day school sebagai salah satu cara menekan tingginya angka penyimpangan di kalangan remaja. Beliau mendukung wacana tersebut dalam upaya kemajuan bangsa Indonesia.
            Seperti kita ketahui, saat ini terdapat perbedaan antara sekolah negeri dan swasta. Dari segi kuantitas jam belajar, swasta menerapkan waktu belajar yang lebih panjang dari negeri. Adapun sekolah swasta selain menggunakan kebijakan yang ditetapkan oleh pemerintah, juga menerapkan pengembangan kurikulum berdasarkan kebijakan yayasan pendidikannya.
            Tidak hanya dari segi kuantitas jam belajar, fasilitas belajar mengajar pun sangat diutamakan oleh sekolah swasta. Berbagai kegiatan ekstrakurikuler yang tentu memerlukan biaya tidak murah diselenggarakan untuk memenuhi harapan anak didik maupun orangtua.
            Sebut saja sekolah yang ada di bilangan Tangerang yang memiliki fasilitas berkuda, renang, futsal dalam kegiatan ekstrakurikulernya. Meskipun demikian, dengan biaya sekolah yang dapat dikategorikan mahal, sesuai dengan kategori orangtua muridnya yang berada pada golongan atas.
            Tidak demikian dengan sekolah negeri. Jika kita lihat pada sekolah negeri, tidak semua berada pada golongan menengah  ke atas. Dari segi biaya tentu sudah jauh dikatakan mahal. Dan karena tidak semua orang memiliki kemampuan menyekolahkan anak di sekolah swasta, tentunya mereka lebih memilih sekolah negeri.
            Keberadaan sekolah swasta pun lebih banyak di daerah perkotaan, dalam hal ini kota Jakarta. Sementara sekolah swasta di daerah terbatas jumlahnya. Tentu saja berkaitan dengan kondisi di daerah.
            Lantas bagaimana pendidik dalam hal guru memaknai wacana tersebut? Sebagai pendidik, guru menginterpretasikan wacana tersebut dengan memberikan contoh pendidikan di Finlandia. Finlandia menerapkan pendidikan yang tidak membebani siswa. Kurikulum yang diterapkan bersifat fleksibel.
            Tidak hanya itu, ketika sistim itu dijalankan maka profesi dan kesejahteraan juga perlu dipikirkan. Selain guru, kondisi fisik anak didik juga harus dipertimbangkan. Mengingat usia anak pada jenjang SD perlu istirahat dan asupan makanan yang baik.
            Sistem pendidikan di Finlandia merupakan salah satu sistem pendidikan terbaik di dunia (cnnindonesia.com, 20/11/2014). Dari segi prestasi anak didik pun secara internasional diketahui sangat baik dalam bidang membaca, matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam.
            Sistem pendidikan di Finlandia menjadi acuan bagi sistem pendidikan di berbagai negara dan juga yang ditiru oleh negara-negara lain. Beberapa hal yang menjadi kunci utama dalam penyelenggaraan pendidikan di Finlandia antara lain pemerataan pendidikan bagi semua anak, kerjasama antar guru dan sistem belajar sambil bermain.
            Dalam hal pemerataan pendidikan di Finlandia, pendidikan anak usia dini adalah untuk semua anak. Dana semua sekolah difokuskan dan disesuaikan untuk anak berkebutuhan khusus. Kurikulum yang diterapkan adalah mengutamakan kemampuan seluruh anak bukan hanya menitikberatkan prestasi.
            Sedangkan dalam hal penguatan guru, beban mengajar guru-guru di Finlandia hanya setengah kali lebih sedikit jika dibandingkan dengan Amerika. Dengan demikian para guru memiliki waktu untuk berbagi ide dalam meningkatkan kualitas pengajaran. Selain itu, profesi guru di Finlandia merupakan profesi yang sangat dihargai dan dipercaya.
            Berikutnya adalah sistem belajar sambil bermain yang diterapkan di Finlandia. Hal ini sudah terbukti sangat meningkatkan kemampuan anak didik. Selain waktu belajar yang lebih pendek, Finlandia menerapkan waktu istirahat selama lima belas menit setiap pergantian mata pelajaran.
            Beban pekerjaan rumah yang diberikan kepada anak didik jenjang sekolah dasar juga sangat minim. Hal ini ditujukan untuk memberikan waktu yang luang kepada anak dalam melakukan kegiatan hobi dan yang menunjang bakat anak.
            Sementara pada sekolah-sekolah di negara lain termasuk Indonesia lebih mengedepankan pada prestasi akademis anak didik. Perbedaan lain juga adanya anggapan bahwa sekolah swasta lebih baik dari negeri, dan hal ini tidak terjadi di Finlandia.
            Lebih lanjut, bagaimana orangtua memaknai wacana full day school? Seperti dilansir dalam pontianakpost.com (10/8/2016), salah satu orangtua tidak mendukung wacana tersebut. Pasalnya kurikulum 2013 yang diterapkan sekolah saat ini juga belum sempuna dilaksanakan, namun sudah ada lagi wacana baru yang digulirkan.
Menurut orangtua juga jika anak seharian di sekolah maka kehidupan sosial anak akan terganggu. Interaksi anak dengan lingkungan akan berkurang. Selaian itu hal ini juga terkait dengan adanya potensi kekerasan di sekolah.
Orangtua juga mengungkapkan bahwa tidak semua orangtua bekerja. Ada pula orangtua yang tidak bekerja sehingga memiliki waktu bersama anak. Dengan demikian ungkapan Muhadjir Effendi bahwa wacana full day school adalah upaya untuk menyeimbangkan waktu anak dan orangtua di rumah tidak mewakili semua keluarga yang ada.
Ketika full day school diterapkan, tentunya juga berdampak pada biaya sekolah. Hal ini dirasa karena dengan bertambahnya kegiatan maka biaya pun akan bertambah.
Peserta didik yang merupakan obyek dalam wacana yang digulirkan menteri pendidikan dan kebudayaan baru ini pun memaknainya dalam berbagai respon.
Kompas, 8 Agustus 2016 mengungkapkan respon sejumlah siswa di beberapa sekolah di Jakarta. Salah satu siswa mengungkapkan keberatan terhadap sistem yang akan dijalankan nantinya. Siswa mengatakan hal itu akan membuat siswa bertambah lelah.
Jam pelajaran yang saat ini diakhiri pukul dua siang, jika akan menjadi pukul lima sore, maka selain kelelahan, pun akan mengalami kejenuhan. Sebagai pelajar, otak siswa memerlukan istirahat.
Namun jika tetap akan dijalankan full day school tersebut, siswa berharap beban pelajaran seperti ulangan dan juga dan diperingan. Siswa menginginkan adanya hal-hal yang perlu disesuaikan dalam hal pelaksaan full day school nantinya.
Bagi Gadamer, manusia adalah makhluk historis, memiliki latar belakang sejarah yang panjang. Dengan demikian setiap orang berpikir dalam lingkup vorrurteil tertentu (Dua: 2007). Oleh karena itu manusia berpikir dalam kebijaksanaan tradisi yang ada, baik oleh keluarga, masyarakat dan negara. Berbicara tradisi, maka manusia hidup dalam pengaruh otoritas.
Kita selalu berada dalam tradisi, bahkan kesadaran tiap orang ditentukan secara historis (Wirkungsgeschichtliches Bewusstsein). Oleh karena itu untuk memahami pendidikan di Indonesia kita perlu memahami sejarah pendidikan Indonesia dalam beberapa decade atau masa kepemimpinan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan sebelumnya hingga saat ini.
Sistem pendidikan di Indonesia saat ini menggunakan Kurikulum 2013. Dalam sejarahnya, semasa Mohammad Nuh (2009-2014), Menteri pendidikan tersebut menggagas dan menerapkan Kurikulum 2013. Sistem pendidikan tersebut menggantikan sistem pendidikan yang sebelumnya yaitu Bambang Soedibyo dengan alasan memperbaiki kurikulum sebelumnya, yaitu Kurikulum 2006.
Kemudian Anies Baswedan menghentikan Kurikulum 2013 di sebagian besar  sekolah. Hal ini dikarenakan Kurikulum 2013 dirasa bukanlah kurikulum yang tepat dan banyaknya konten yang tidak sesuai dalam penerapannya (sumber: pontianakpost.com, 10/8/2016).
Kurikulum 2013 memiliki empat aspek penilaian, yaitu aspek pengetahuan, aspek keterampilan, aspek sikap, dan perilaku. Di dalam Kurikulum 2013, terutama di dalam materi pembelajaran terdapat materi yang dirampingkan dan materi yang ditambahkan. Materi yang dirampingkan terlihat ada di materi Bahasa Indonesia, IPS, PPKn, dan lain sebagainya, sedangkan materi yang ditambahkan adalah materi Matematika.
Materi pelajaran tersebut (terutama Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam) disesuaikan dengan materi pembelajaran standar Internasional (seperti PISA dan TIMSS) sehingga pemerintah berharap dapat menyeimbangkan pendidikan di dalam negeri dengan pendidikan di luar negeri  (http://www.antikorupsi.org/id/content/kurikulum-2013-untuk-siapa).

Konteks Wacana Full Day School dalam Fusion of Horizon
Horizon merupakan sebuah jarak pandang yang membatasi segala sesuatu yang dapat dilihat dari suatu sudut pandang tertentu. Di satu sisi pemahaman dibatasi dalam batasan teretentu berdasarkan pemahaman kita, sisi lain menunjukan sesuatu yang berada di luar.
Hal tersebut adalah usaha menempatkan diri untuk berada dalam percakapan atau dialog yang memiliki horizon tersendiri (Dua: 2007). Fusion of horizon merupakan horizon yang ada pada teks dengan konteks.
Teks melekat dengan tradisi budayanya. Dalam konteks wacana full day school subyek-subyek memberikan makna terhadap teks tersebut berdasarkan cara pandangnya sendiri. Ketika subyek tersebut memberikan makna, mereka melihat dia dalam sebuah horizon.
Wacana full day school yang digagas Muhadjir merupakan suatu sistem pendidikan baru yang akan dijalankan. Muhadjir membuat perubahan sistem pendidikan tersebut adalah untuk memperbaiki sistem pendidikan di Indonesia. Pendekatannya adalah pada pendidikan karakter. Sehingga dengan penerapan full day school, siswa tidak hanya mengutamakan akademis saja, tetapi pada kegiatan yang mendukung perkembangan anak.
Selain itu melalui aspek budaya yang ada dalam keluarga, Muhadjir membangun gap yang ada pada waktu antara anak dan orang tua. Muhadjir juga mengkorelasikan dengan aspek sosial yaitu kenakalan remaja ketika anak tidak bersama orangtua di luar jam sekolah.
Mengingat latar belakang sejarah Muhadjir Effendi yang dipaparkan dalam latar belakang, ada kemungkinan wacana tersebut adalah hasil dari latar belakang pribadinya yaitu bahwa beliau adalah tokoh pendidikan, sosial dan militer.
            Dengan demikian dapat dirangkum bahwa wacana full day school memiliki makna asli teks tersebut adalah dalam aspek pendidikan karakter, sosial dan sistem dalam pendidikan di suatu negara pada umumnya. Ini adalah horizon teks itu sendiri.
Seperti yang terlihat pada pemahaman di atas, subyek-subyek memberikan makna terhadap wacana full day school menurut horizonnya. Para subyek memaknai berdasarkan perspektif dan dalam pendekatan masing-masing. Dalam Truth dan Method Gadamer (dalam Outhwaite) Horizon merupakan suatu situasi ketika seseorang mengenali obyek dalam perspektifnya.
Jusuf Kalla, Wakil Presiden RI, memberikan dukungan terhadap wacana tersebut. Jusuf Kalla memaknai wacana tersebut dengan memberikan perspektif berdasarkan pendekatan sistem pendidikan yang sudah dijalankan selama ini di sekolah swasta.
Pendekatan Jusuf Kalla adalah memberikan horizonnya terhadap obyek yang sudah menjalankan sistem pendidikan tersebut. Sebagai wakil kepala negara, Jusuf Kalla melihat sistem pendidikan Indonesia yang harus merata baik swasta dan negeri. Oleh karena praktik pendidikan swasta yang dianggap lebih baik daripada negeri. Dan berangkat dari pendekatan peningkatan pendidikan Indonesia yang harus mengarah pada perbaikan, maka Jusuf Kalla memberikan dukungan wacana full day school.
Pada dasarnya fusion of horizon merupakan sebuah proses. Subyek-subyek menginterpretasikan teks di mana teks otentik itu sendiri adalah dasar dari interpretasi subyek. Sementara itu, jarak yang ada antara fusion of horizon adalah sebuah jarak yang sifatnya temporal.
Seseorang hanya melihat atau menginterpretasikan teks melalui horizonnya, sementara yang lain dari luar horizonnya. Hal ini merupakan kebenaran dari masing-masing subyek.
Kebenaran yang ada setiap subyek membuka fusion of horizon yang baru. (dalam Sasaki). Fusion of horizon baru tersebut adalah pemahaman dari kebenaran yang lain. Sehingga hubungan antara teks dan interpretasi merupakan hubungan yang asimetris, namun dengan kondisi yang memiliki teks dasar.
Fusion of horizon dapat dicapai dari dialog-dialog yang ada. Pada perspektif komunikasi, dialog memberikan penekanan pada mendengar dan saling mengisi satu sama lain (Littlejohn dan Foss: 2009).
Dialog memungkinkan komunikator menyadari cara yang berbeda pada tiap individu dalam menginterpretaskan dan memberikan makna pada hal yang sama. Dialog melihat pada suatu proses yang dinamis, transaksional yang berfokus pada hubungan antara tiap subyek.  Tujuan dari dialog tersebut adalah saling menghargai dan memahami.
Konsep dialog menurut Mikhail Bakhtin merefleksikan antara kesatuan dan perbedaan, dan jantung dari dialog adalah perspektif jarak dan perbedaan yang simultan (Littlejohn dan Foss: 2009)
Demikian pula pada wacana full day school yang dimaknai oleh masing-subyek yang telah dikemukakan penulis. Berikut adalah dialog-dialog yang terjadi di antara subyek-subyek yang didasari pada horizon masing-masing atau yang dipahami sebagai kebenaran subyek.
Dedy Mulyadi, Bupati Purwakarta adalah aparat pemerintah daerah. Sebagai tokoh masyarakat daerah, Dedy memahami dalam pendekatan demografis. Dedy membandingkan wilayah demografis di Indonesia di mana Jakarta berbeda dengan daerah lainnya.
Ketika berbicara demografis yang berbeda, maka dalam tataran sosiokultural pun berbeda. Pekerjaan di daerah erat dengan situasi demografisnya. Misalnya pekerjaan nelayan dan petani seperti yang ada di Purwakarta. Dalam tataran sosial pun berbeda, karena di daerah, anak membantu pekerjaan orangtuanya. Dengan demikian, Dedy memaknai wacana full day school dalam perspektif kultur lokal.
Kedua, Dedy juga memaknai sekolah dalam suatu sistem yang ada di daerahnya. Dedy melihat fasilitas sekolah yang menurutnya jauh dari harapan ketika akan dilaksanakannya wacana tersebut. Sehingga ketika wacana tersebut akan dijalankan, sistem pendidikan terutama dalam hal memperlengkapi fasilitas pendukungnya juga perlu disiapkan.
Hal ini adalah horizon interpretator (yang memberikan interpretasi) pada teks atau wacana yang digagas Muhadjir. Horizon teks wacana full day school dan horizon Dedy Mulyadi sebagai interpretator.
Berikutnya adalah pada perspektif guru sebagai pendidik. Sebagai seorang pelaksana penyelenggaraan pendidikan, guru sangat mengenal dan memahami kurikulum yang ada.
Kurikulum menjadi aspek dalam menginterpretasikan wacana full day school. Kurikulum menjadi acuan (back bone) dalam kerangka pendidikan di sekolah.
Oleh karena itu guru memberikan perbandingan kepada kurikulum terbaik yang perlu dipertimbangkan dalam pelaksaanan pendidikan. Pendidikan bukanlah mengenai jam pelajaran sehari penuh di sekolah. Pendidikan berbicara tentang bagaimana mendidik anak yang efektif sehingga mencapai tujuan dari pendidikan itu sendiri.
Sebagai guru tentu melekat pada anak didiknya. Memahami aspek psikologis maupun penunjang anak didik dalam mengikuti proses belajar mengajar anak. Oleh karena itu ketika memahami wacana yang digulirkan menteri pengganti Anies Baswedan ini, guru memberikan interpretasi berdasarkan apa yang menjadi perhatiannya sehari-hari di sekolah. Berkaitan dengan sistem pendidikan dan si anak didik.
Tidak hanya itu, guru pun memaknai terhadap profesinya. Hal ini tentu akan berpengaruh terhadap profesi guru yang harus menambah jam pekerjaannya dari yang selama ini dilakukan. Sehingga kebijakan kesejahteraan guru juga perlu menjadi suatu pertimbangan.
Dengan demikian guru memberikan wacana full day school berdasarkan horizon yang sesuai pada apa yang terjadi di sekolah. Guru memiliki horizon dalam perspektif sosiokultural. Hal ini berkaitan dengan sistem pendidikan yaitu kurikulum, psikologis anak didik dan dari aspek ekonomi.
Bagi orangtua, terutama jenjang SD, mereka mendampingi proses belajar mengajar si anak. Dengan adanya perubahan sistem pada pendidikan, orangtua pun merasakan dampaknya. Sistem pendidikan menjadi perhatian dalam perspektif memaknai full day school.
Kurikulum 2013 yang oleh orangtua masih dirasakan banyak ketidaksesuaian pada penerapannya, kemudian diluncurkan sistem pendidikan yang baru tentu menuai respon yang tidak positif.
Berbicara sistem pendidikan tentu mengarah pada pola belajar anak. Hal inilah yang perlu dipahami oleh orangtua yang mendampingi anak. Karena perubahan sistem pendidikan berarti perubahan yang berdampak terhadap banyak hal. Baik itu dari segi pendukung proses belajar mengajar, seperti buku dan lain lain, juga berkaitan dengan segi biaya.
Bertambahnya jam di sekolah, tentunya menambah kegiatan si anak yang nantinya akan berpengaruh terhadap biaya-biaya yang harus ditanggung oleh orang tua.
Dengan demikian, dalam memaknai  wacana full day school, orangtua menginterpretasikan dari horizonnya yang melekat pada perannya sebagai pendamping belajar anak.
Hal lain yang menjadi sudut pandang perhatian orangtua adalah dampak dari jam yang diperluas di sekolah, maka kekawatiran orangtua adalah adanya penyimpangan yang akan terjadi nantinya di sekolah. Faktor pencetus terjadinya kekerasan pada anak di sekolah.
Selain hal itu aspek psikologis anak dalam bersosialisasi juga menjadi pertimbangan orangtua pada pelaksanaan full day school nantinya. Sebagai orangtua, perkembangan psikologis anak menjadi satu perhatian disamping pendidikan di sekolah.
Dengan melihat perspektifnya orangtua tersebut di atas, maka terdapat horizon orangtua dalam memaknai wacana full day school. Horizon yang ada pada orangtua adalah memaknai dalam perspektif sosiokultural dan psikologis anak.
Pada perspektif anak, full day school dimaknai secara psikologis secara fisik yaitu dampak dari belajar seharian terhadap daya pikir (otak) dan tubuhnya. Wajar saja karena secara sederhana aktivitas yang bertambah tentu berpengaruh terhadap tubuh mereka.
Oleh karena itu siswa juga menginterpretasikan wacana full day school dalam sudut pandang sistem pendidikan yang diterapkan di sekolah. Siswa erat kaitannya dengan sejumlah tanggung jawab dalam tugas-tugas yang diberikan untuk siswa.
Horizon pada siswa adalah berangkat dari konteks sosiokultural, yaitu sistem pendidikan di Indonesia dan pada psikologis siswa (diri sendiri) yang mengandaikan jika wacana full day school diterapkan akan berdampak terhadap dirinya.
Melalui horizon antara teks dengan horizon para subyek sebagai interpretator teks, maka terlihat adanya hubungan timbal balik antara teks dengan konteks (Dua: 2007).
Setiap interpreter yang memaknai wacana full day school memperlihatkan hubungan timbal balik antara wacana full day school yang dicetuskan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Muhadjir Effendi dengan para subyek yang memiliki interpretasi berdasarkan horizonnya.
            Pemahaman muncul melalui adanya hubungan yang saling mempengaruhi antara teks dengan interpreter (pemberi makna). Pemberi makna memberikan interpretasi berdasarkan pengetahuan dari budaya maupun tradisi.
Pemahaman interpreter berangkat dari pra pemahaman atau prasangka yang didasarkan pada historisitas, yang berkaitan dengan tradisi, sistem, yang ada. Prasangka bukanlah suatu yang negatif dalam Gadamer. Prasangka adalah produktif dalam membangun pemahaman. Karena pemahaman dibangun dari pemahaman yang lain.
Pencetus teks dalam hal ini Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Muhadjir Effendi adalah pembuat atau memroduksi teks yang dalam hal ini merupakan keterbatasan manusia.
Melalui fusion of horizon, teks dapat memiliki perbedaan. Baik sesuai makna pencetus atau berbeda. Seperti halnya pada interpretasi subyek-subyek yaitu Dedy Mulyadi (pemerintah daerah), guru, orangtua dan siswa. Dengan demikian mereka sebagai interpretator memahami masa lampau (teks) yang diukur dengan keadaan saat ini. Sehingga teks tidak hanya berada pada satu sisi.
Jarak antara interpreter dengan pencetus dapat dilihat pada fusion of horizon. Ini adalah pemahaman yang sebenarnya (kebenaran). Gadamer menggunakan fusion of horizon sebagai karakteristik yang terbangun dari antara orang-orang.

Daftar Referensi

Buku
Bertens, K. 1981. Filsafat Barat Kontemporer. Jakarta: Gramedia.
Dua, Mikhael. 2007. Filsafat Ilmu Pengetahuan. Telaah Analitis, Dinamis, dan Dialektis. Maumere. Ledalero.
Littlejohn, Stephen W. Foss, Karen A. 2009. Theories of Human Communication. Jakarta: Salemba Humanika.
Littlejohn, Stephen W. Foss, Karen A. 2009. Encyclopedia of Communication Theory. Sage Publishing.
Miller, Katherine. 2005. Communication Theories: Perspectives, Processes And Contexts. Chicago: McGraw Hill.
Ruben, Brent D. 1992. Communication and Human Behaviour. Prentice Hall.

Jurnal
de Vresse , Claes H. News Framing: Theory and Typology.  Information DesiNgneJwousrfnralm+iDnogc:uTmheenotrDyeasingnd1t3y(1p),o5l1o–g6y2 © 2005 John Benjamins Publishing Company.  http://msap-unlam.ac.id/download/bahan__bacaan/New%20Framing.pdf diakses pada Minggu, 21 Agustus 2016, Pk. 00.35.
Putra, R. Masri Sareb. Tradisi Hermenetika dan Penerapannya dalam Studi Komunikasi. Jurnal UMN, Juni 2012, Volume IV, No.1. http://library.umn.ac.id/jurnal/public/uploads/papers/pdf/a57a35dfb0bdbf3772b5bb59f80b5dc8.pdf diakses pada 20 Agustus 2016, Pk. 11.18

Artikel
The Return of Grand Theory in Social Science. William Outhwaite . http://www.uky.edu/~addesa01/documents/Outhwaite.pdf diakses Selasa, 23 Agustus 2016, Pk. 11.00
A Process of the Fusion of Horizons in the Text Interpretation. Kazuya SASAKI. Rikkyo University http://www.gcoe.lit.nagoya-u.ac.jp/eng/result/pdf/08_SASAKI.pdf diakses Selasa, 23 Agustus 2016, Pk. 11.00
(http://www.rowan.edu/open/philosop/clowney/Aesthetics/ReadingGuides/GadamerGuide.html)   diakses pada 19 Agustus 2016, Pk.15.12.
http://regional.kompas.com/read/2016/08/09/10200001/bupati.dedi.tolak.rencana.full.day.school. Diakses 22 Agustus 2016, Pk.21.09
http://www.pontianakpost.com/ortu-tolak-full-day-school  Diakses 22 Agustus 2016, Pk.21.19
http://www.cnnindonesia.com/internasional/20141120051207-134-12638/mengapa-sekolah-finlandia-terbaik-di-dunia/ Diakses 22 Agustus 2016, Pk.21.21


No comments:

Post a Comment