Presiden
Republik Indonesia, Joko Widodo
mengumumkan perubahan Kabinet Kerja pada 27
Juli 2016 yang lalu di Istana Merdeka. Sejumlah menteri mengalami pergeseran
dan juga masuknya nama-nama baru dalam jajaran menteri. Perombakan kabinet
kerja tersebut seperti diungkapkan oleh Joko Widodo pada m.tempo.co
(18/08/2016) adalah dalam rangka mengurangi kesenjangan ekonomi antara yang kaya dan miskin. Lebih lanjut dijelaskan
beliau perombakan tersebut diharapkan dapat menyelesaikan masalah perekonomian
bangsa Indonesia.
Salah satu
menteri baru yang masuk dalam jajaran Kabinet Kerja kedua adalah Muhadjir
Effendi, di mana beliau resmi menjadi Menteri pendidikan dan Kebudayaan yang
sebelumnya dijabat oleh Anies Baswedan.
Menteri Sekretaris Negara, Pratikno dalam memperkenalkan menteri baru memaparkan
kualifikasi Muhajir Effendi yang mumpuni dalam bidang pendidikan. Selain
memiliki pengalaman dalam pendidikan tinggi, Muhadjir juga membawa peningkatan
prestasi dalam berbagai organisasi yang dipimpinnya (okezone.com, 27/7/2016)
Muhadjir
merupakan mantan Rektor Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dan memulai
karirnya sebagai karyawan honorer, dosen hingga kemudian terpilih menjadi
rektor kelima UMM pada tahun 2000. Selain
mengajar di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UMM, Muhajir juga adalah
dosen tetap Fakultas Ilmu Pendidikan
Program Studi Pendidikan Luar Sekolah, Universitas Negeri Malang
(republika.co.id, 27/7/2016).
Muhadjir
meraih gelar doktor bidang sosiologi militer di program doktor Universitas
Airlangga pada tahun 2008. Selain sosiolog yang ahli dalam bidang militer,
Muhajir juga merupakan intelektual muslim. Saat ini Muhadjir menjabat sebagai
Ketua PP Muhammadiyah bidang
pendidikan dan aktif dalam
sejumlah organisasi sosial lain seperti Badan Narkotika Nasional, Himpunan
Mahasiswa Indonesia, dan lain-lain.
Semasa
kuliah, Muhadjir menekuni profesi sebagai wartawan di beberapa Koran hingga
kemudian Muhadjir juga dikenal sebagai kolumnis yang banyak menyoroti masalah
agama, pendidikan, sosial, politik, dan militer.
Minggu, 7
Agustus 2016, usai menjadi pembicara dalam pengajian untuk keluarga besar
Muhammadiyah di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), di Malang, Mendikbud menggagas sistem “Full Day School” untuk pendidikan tingkat SD dan SMP baik negeri
maupun swasta di Indonesia. Wacana tersebut dilontarkan Kemdikbud seperti
dilansir dalam beritasatu.com (7/8/2016) sebagai upaya merestorasi pendidikan
dasar dan menengah (SD-SMP), termasuk pendidikan karakter.
Gagasan full day school kemudian menjadi satu
bahan pemberitaan media yang kemudian menjadi
perbincangan publik. Baik kalangan pemerintah, penyelenggara pendidikan
maupun lingkungan yang berkaitan dengan pelaksanaan pendidikan ikut ambil
bicara.
Pasalnya,
pendidikan di Indonesia hingga saat ini mengalami perubahan pada sistem
pembelajaran tiap tahunnya, hingga ada anggapan “menteri baru kebijakan baru”.
Pendidikan di Indonesia juga merupakan satu fenomena yang terus menjadi
perhatian masyarakat. Selain sistem pendidikan yang belum memiliki standar,
karena perubahan yang terjadi terus menerus, kualitas pendidikan di Indonesia
pun masih dipertanyakan.
Ketika
berbagai kalangan memberikan respon terhadap wacana full day school, masing-masing memaknai wacana tersebut. Sementara
itu berangkat dari pemahaman yang ingin dicapai berdasarkan tujuan penulis,
maka penulis akan membangun pemahaman dengan pendekatan hermenetika Gadamer. Melalui
hermenetika Gadamer, kita dapat membangun makna melalui realitas yang ada.
Hermenetika dalam
Perspektif Komunikasi
Hermeneutika
berasal dari Bahasa Yunani, hermeneuo yang
berarti mengartikan, menginterpretasikan, menafsirkan, menerjemahkan . Istilah
Hermenetika berasal dari nama Dewa Hermes yang mempunyai tugas menerjemahkan
pesan-pesan dewa untuk dapat dimengerti oleh manusia.
Hermes
memiliki kemampuan tersebut sehingga mampu menjembatani apa yang disebut “gap
ontologis”, yaitu gap antara pemikiran alam dewa dengan pemikiran atau alam
manusia.
Tugas
hermeneutika, seperti tugas Dewa Hermes adalah menjembatani gap antara ontology
(realitas) dengan apa yang ada di permukaan (fenomena). Sehingga terjadi
verifikasi sesuatu yang tampak di permukaan dengan substansi atau realitas yang
merupakan “ada” atau being yang
sesungguhnya (Putra, 2012).
Lasswell (1948)
mendefinisikan komunikasi “Who- says what- to whom, in what channel- with what
effect” (Siapa berkata apa, melalui apa kepada siapa dengan efek apa). Laswell
seorang ilmuwan politik memberikan pandangannya mengenai komunikasi yang
dikenal dengan Model Laswell. Laswell menekankan pada elemen-elemen yang ada
dalam komunikasi antara lain pembicara yang mempengaruhi audiens melalui pesan
(Ruben: 1992).
Untuk
memahami komunikasi lebih lanjut, dalam konseptualisasi komunikasi secara
divergen (point of divergence), komunikasi
merupakan proses perpindahan pesan untuk memberikan pengaruh pada perilaku.
Sehingga mempertimbangkan persepsi penerima, strategi tujuan komunikasi dan
pemaknaan (Miller; 2005).
Pesan merupakan
bagian dari proses komunikasi yang disampaikan kepada orang lain. Kemudian orang lain mengartikan makna dari pesan
tersebut. Dengan demikian, wacara full
day school yang digagas oleh Muhadjir Effendi merupakan pesan yang
disampaikan kepada publik yang kemudian diinterpretasikan atau dipahami dari
berbagai sudut pandang.
Hans
George Gadamer, menyatakan bahwa individu tidak berdiri terpisah dari segala
sesuatu untuk menganalisis dan menafsirkannya; malahan kita menafsirkannya
secara alami sebagai bagian dari keberadaan kita sehari-hari (Littlejohn:
2009).
Prinsip
utama teori Gadamer adalah bahwa seseorang selalui memahami pengalaman dari
sudut pandang perkiraan dan asumsi. Kerangka interpretatif itu sendiri terdiri
dari pengalaman, sejarah dan tradisi yang merupakan cara-cara dalam memahami.
Pada
kajian komunikasi, proses interpretasi merupakan penekanan pada tradisi
fenomenologis, di mana teori-teori fenomenologis melihat interpretasi sebagai
sebuah proses pemahaman yang sadar dan hati-hati. Hermeneutika, diartikan
sebagai penafsiran teks yang sengaja dan hati-hati merupakan dasar bagi tradisi
fenomenologis dalam penelitian pesan (Littlejohn: 2009).
Pemahaman
merupakan fokus dari hermeneutika. Hans- Georg Gadamer melihat pemahaman
merupakan suatu proses holistik yang terjadi dalam suatu siklus hermeneutik
antara bagian-bagian teks dan pandangan kita (dengan seluruh dimensi personal,
historis dan sosial) tentang teks tersebut sebagai keseluruhan (Dua: 2007).
Wacana “Full Day School” merupakan teks yang
perlu dipahami oleh peneliti melalui siklus atau lingkaran hermeneutika, yaitu
yang terjadi pada bagian-bagiannya, pandangan penulis maupun pandangan
subyek-subyek yang menginterpretasikan wacana tersebut.
Untuk
membangun pemahaman melalui subyek-subyek tersebut penulis menggunakan “framing” atau pengerangkaan yang digagas
oleh Todd Gitlin (Littlejohn: 2009).
Pengerangkaan dilakukan oleh media massa dalam hal ini media digital,
yaitu melalui situs-situs yang menampilkan berita-berita terkait wacana full day school.
Konsep
Framing berfokus pada sebuah proses yang komunikatif, di mana komunikasi
merupakan proses dinamis yang melibatkan frame
building (faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas struktur bingkai berita)
dan frame setting yang mengacu pada
adanya interaksi antara bingkai media dan pengetahuan individu-individu dan
predisposisi yang ada (de Vreese: 2005).
Penulis menentukan
subyek yang memberikan pemahamannya yaitu kalangan pemerintah di mana subyek
ini memberikan interpretasi wacana full
day school di sekolah yang ada di daerah atau luar Jakarta. Kedua, adalah interpretasi dari guru sebagai
pelaksana dari pendidikan. Dan yang ketika, adalah orangtua.
Tradisi dan
teori-teori fenomenologi merupakan pra pemahaman di dalam proses hermeneutika. Di
mana fungsi dari pra pemahaman menurut Gadamer adalah untuk memiliki pemahaman
yang lebih jelas dari realitas (Dua: 2007)
Pemahaman teks wacana
Full Day School melalui para subyek.
Wacana
yang dicetuskan oleh Muhadjir Effendi memiliki arti dari teks itu sendiri.
Dalam mencetuskan gagasan tersebut tentunya memiliki alasan-alasan. Untuk itu
kita perlu melihat terlebih dahulu makna teks dari pembuat teks itu sendiri.
Full day school merupakan upaya dalam
merestorasi pendidikan dasar dan menengah (SD-SMP) di Indonesia (Kompas,
8/8/2016). Upaya tersebut juga termasuk pendidikan karakter bagi anak didik.
Muhadjir
mengungkapkan alasan yaitu untuk menyesuaikan waktu antara anak dengan
orangtua. Pada saat anak pulang sekolah, orangtua tidak ada di rumah. Sehingga
berdampak kurangnya pengawasan terhadap anak.
Melalui full day school anak dapat memanfaatkan
waktu seperti menyelesaikan tugas di sekolah maupun mengikuti kegiatan
ekstrakurikuler. Sekolah menyelenggarakan berbagai kegiatan ekstrakurikuler
untuk anak didik.
Bagi
Gadamer, interpretasi tidak sama dengan mengambil teks, lalu mencari arti yang
oleh si pengarang diletakan dalam teks itu (Bertens: 1981). Arti sebuah teks
bersifat terbuka dan tidak terbatas pada maksud pengarang teks. Sehingga dengan
demikian teks tidak hanya bersifat reproduktif tapi juga produktif.
Pemahaman menurut
Gadamer selalu berada dalam dialog (Dua: 2007). Merupakan persetujuan bersama. Verstehen ist sich miteinander verstehen,
pemahaman adalah mengerti satu sama lain.
Untuk itu
kita perlu memahami wacana full day
school dari beberapa subyek berikut ini. Pemahaman itu tidak bersifat
individual tetapi komunal. Dengan demikian pemahaman ada pada subyek-subyek.
Wacana
full day school dipahami oleh Bupati Purwakarta, Dedi Mulyadi tidak cocok
diterapkan di luar Jakarta (Kompas, 9/8/2016). Wacana tersebut cocok untuk
kondisi kultur di Jakarta sebagai kota besar. Orangtua di Jakarta memiliki
kegiatan yang sibuk dengan pekerjaan. Dalam
hal pekerjaan, profesi orangtua di pedesaan adalah petani atau nelayan. Dengan
masa belajar saat ini yaitu Pukul 06.00 hingga 11.00, anak membantu orangtua
selepas sekolah.
Begitu
pula dengan keadaan demografis di Indonesia bagian timur seperti Papua. Jarak
antara sekolah dengan rumah sangat jauh. Sehingga perlu mempertimbangkan waktu
yang diperlukan anak untuk sampai di rumah ketika seharian berada di sekolah.
Hal
tersebut juga cocok diterapkan jika fasilitas sekolah memadai. Fasilitas
tersebut merupakan fasilitas pendukung kegiatan belajar mengajar dan juga
ekstrakurikulernya misalnya PMR, Pramuka, Paskibra dan lainnya. Sehingga anak
didik tidak hanya terfokus pada buku tetapi juga dapat menyalurkan bakat.
Dedy
Mulyadi memaknai wacana melalui tradisi-tradisi yang ada di daerah pedesaan.
Karena tradisi yang ada di Jakarta berbeda jika dibandingkan dengan di
daerah-daerah.
Pengalaman
yang ada di sekolah daerah juga berbeda dengan yang ada di Jakarta khususnya.
Berangkat dari perbedaan itu, Dedy memberikan pemahaman terhadap wacana full day school.
Makna orisinal adalah makna yang dipahami dengan vorrurteil historis dan psikologis (Dua:
2007). Terbangun dari para pendukung
atau dari orang-orang yang tidak menyetujui.
Untuk
memahami lebih lanjut, kita perlu melihat pemahaman dari pendukung wacana full day school. Jusuf Kalla yang saat
ini menjabat sebagai Wakil Presiden Republik Indonesia mendukung wacana full day school (metrotvnews.com,
10/8/2016). Beliau mengatakan bahwa hal itu sudah dilaksanakan oleh banyak
sekolah terutama oleh sekolah swasta . Sistim tersebut akan memberikan
kesempatan kepada sekolah untuk menanamkan pendidikan karakter.
Jusuf Kalla juga berpendapat hal tersebut adalah untuk
menghindari adanya penyimpangan yang terjadi di luar jam sekolah. Dengan waktu
sekolah yang menurutnya perlu di uji coba dulu, ketika full day school diterapkan, siswa dapat menikmati waktu bersama
keluarga karena Sabtu dan Minggu adalah hari libur.
Tidak dapat dipungkiri bahwa bangsa Indonesia mengalami
banyak penyimpangan yang terjadi pada anak-anak sekolah ketika tidak berada di
sekolah. Beberapa kasus seperti kenakalan remaja dalam bentuk tawuran,
penyalahgunaan obat terlarang, menghabiskan waktu bermain game online di tempat
penyewaan, hingga pornografi sangat marak dalam fenomena remaja saat ini.
Jusuf Kalla melihat wacana full day school sebagai salah satu cara menekan tingginya angka
penyimpangan di kalangan remaja. Beliau mendukung wacana tersebut dalam upaya
kemajuan bangsa Indonesia.
Seperti kita ketahui, saat ini terdapat perbedaan antara
sekolah negeri dan swasta. Dari segi kuantitas jam belajar, swasta menerapkan
waktu belajar yang lebih panjang dari negeri. Adapun sekolah swasta selain
menggunakan kebijakan yang ditetapkan oleh pemerintah, juga menerapkan
pengembangan kurikulum berdasarkan kebijakan yayasan pendidikannya.
Tidak hanya dari segi kuantitas jam belajar, fasilitas
belajar mengajar pun sangat diutamakan oleh sekolah swasta. Berbagai kegiatan
ekstrakurikuler yang tentu memerlukan biaya tidak murah diselenggarakan untuk
memenuhi harapan anak didik maupun orangtua.
Sebut saja sekolah yang ada di bilangan Tangerang yang
memiliki fasilitas berkuda, renang, futsal dalam kegiatan ekstrakurikulernya.
Meskipun demikian, dengan biaya sekolah yang dapat dikategorikan mahal, sesuai
dengan kategori orangtua muridnya yang berada pada golongan atas.
Tidak demikian dengan sekolah negeri. Jika kita lihat
pada sekolah negeri, tidak semua berada pada golongan menengah ke atas. Dari segi biaya tentu sudah jauh
dikatakan mahal. Dan karena tidak semua orang memiliki kemampuan menyekolahkan
anak di sekolah swasta, tentunya mereka lebih memilih sekolah negeri.
Keberadaan sekolah swasta pun lebih banyak di daerah
perkotaan, dalam hal ini kota Jakarta. Sementara sekolah swasta di daerah
terbatas jumlahnya. Tentu saja berkaitan dengan kondisi di daerah.
Lantas bagaimana pendidik dalam hal guru memaknai wacana
tersebut? Sebagai pendidik, guru menginterpretasikan wacana tersebut dengan
memberikan contoh pendidikan di Finlandia. Finlandia menerapkan pendidikan yang
tidak membebani siswa. Kurikulum yang diterapkan bersifat fleksibel.
Tidak hanya itu, ketika sistim itu dijalankan maka profesi
dan kesejahteraan juga perlu dipikirkan. Selain guru, kondisi fisik anak didik
juga harus dipertimbangkan. Mengingat usia anak pada jenjang SD perlu istirahat
dan asupan makanan yang baik.
Sistem pendidikan di Finlandia merupakan salah satu sistem
pendidikan terbaik di dunia (cnnindonesia.com, 20/11/2014). Dari segi prestasi
anak didik pun secara internasional diketahui sangat baik dalam bidang membaca,
matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam.
Sistem pendidikan di Finlandia menjadi acuan bagi sistem pendidikan
di berbagai negara dan juga yang ditiru oleh negara-negara lain. Beberapa hal
yang menjadi kunci utama dalam penyelenggaraan pendidikan di Finlandia antara
lain pemerataan pendidikan bagi semua anak, kerjasama antar guru dan sistem
belajar sambil bermain.
Dalam hal pemerataan pendidikan di Finlandia, pendidikan
anak usia dini adalah untuk semua anak. Dana semua sekolah difokuskan dan
disesuaikan untuk anak berkebutuhan khusus. Kurikulum yang diterapkan adalah
mengutamakan kemampuan seluruh anak bukan hanya menitikberatkan prestasi.
Sedangkan dalam hal penguatan guru, beban mengajar
guru-guru di Finlandia hanya setengah kali lebih sedikit jika dibandingkan
dengan Amerika. Dengan demikian para guru memiliki waktu untuk berbagi ide dalam
meningkatkan kualitas pengajaran. Selain itu, profesi guru di Finlandia
merupakan profesi yang sangat dihargai dan dipercaya.
Berikutnya adalah sistem belajar sambil bermain yang
diterapkan di Finlandia. Hal ini sudah terbukti sangat meningkatkan kemampuan
anak didik. Selain waktu belajar yang lebih pendek, Finlandia menerapkan waktu
istirahat selama lima belas menit setiap pergantian mata pelajaran.
Beban pekerjaan rumah yang diberikan kepada anak didik
jenjang sekolah dasar juga sangat minim. Hal ini ditujukan untuk memberikan
waktu yang luang kepada anak dalam melakukan kegiatan hobi dan yang menunjang
bakat anak.
Sementara pada sekolah-sekolah di negara lain termasuk
Indonesia lebih mengedepankan pada prestasi akademis anak didik. Perbedaan lain
juga adanya anggapan bahwa sekolah swasta lebih baik dari negeri, dan hal ini
tidak terjadi di Finlandia.
Lebih lanjut, bagaimana orangtua memaknai wacana full day school? Seperti dilansir dalam
pontianakpost.com (10/8/2016), salah satu orangtua tidak mendukung wacana tersebut.
Pasalnya kurikulum 2013 yang diterapkan sekolah saat ini juga belum sempuna
dilaksanakan, namun sudah ada lagi wacana baru yang digulirkan.
Menurut
orangtua juga jika anak seharian di sekolah maka kehidupan sosial anak akan
terganggu. Interaksi anak dengan lingkungan akan berkurang. Selaian itu hal ini
juga terkait dengan adanya potensi kekerasan di sekolah.
Orangtua
juga mengungkapkan bahwa tidak semua orangtua bekerja. Ada pula orangtua yang
tidak bekerja sehingga memiliki waktu bersama anak. Dengan demikian ungkapan
Muhadjir Effendi bahwa wacana full day
school adalah upaya untuk menyeimbangkan waktu anak dan orangtua di rumah
tidak mewakili semua keluarga yang ada.
Ketika full day school diterapkan, tentunya
juga berdampak pada biaya sekolah. Hal ini dirasa karena dengan bertambahnya
kegiatan maka biaya pun akan bertambah.
Peserta
didik yang merupakan obyek dalam wacana yang digulirkan menteri pendidikan dan
kebudayaan baru ini pun memaknainya dalam berbagai respon.
Kompas, 8
Agustus 2016 mengungkapkan respon sejumlah siswa di beberapa sekolah di
Jakarta. Salah satu siswa mengungkapkan keberatan terhadap sistem yang akan
dijalankan nantinya. Siswa mengatakan hal itu akan membuat siswa bertambah
lelah.
Jam
pelajaran yang saat ini diakhiri pukul dua siang, jika akan menjadi pukul lima
sore, maka selain kelelahan, pun akan mengalami kejenuhan. Sebagai pelajar,
otak siswa memerlukan istirahat.
Namun jika
tetap akan dijalankan full day school
tersebut, siswa berharap beban pelajaran seperti ulangan dan juga dan
diperingan. Siswa menginginkan adanya hal-hal yang perlu disesuaikan dalam hal
pelaksaan full day school nantinya.
Bagi
Gadamer, manusia adalah makhluk historis, memiliki latar belakang sejarah yang
panjang. Dengan demikian setiap orang berpikir dalam lingkup vorrurteil tertentu (Dua: 2007). Oleh
karena itu manusia berpikir dalam kebijaksanaan tradisi yang ada, baik oleh
keluarga, masyarakat dan negara. Berbicara tradisi, maka manusia hidup dalam
pengaruh otoritas.
Kita
selalu berada dalam tradisi, bahkan kesadaran tiap orang ditentukan secara
historis (Wirkungsgeschichtliches
Bewusstsein). Oleh karena itu untuk memahami pendidikan di Indonesia kita
perlu memahami sejarah pendidikan Indonesia dalam beberapa decade atau masa
kepemimpinan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan sebelumnya hingga saat ini.
Sistem
pendidikan di Indonesia saat ini menggunakan Kurikulum 2013. Dalam sejarahnya,
semasa Mohammad Nuh (2009-2014), Menteri pendidikan tersebut menggagas dan
menerapkan Kurikulum 2013. Sistem pendidikan tersebut menggantikan sistem
pendidikan yang sebelumnya yaitu Bambang Soedibyo dengan alasan memperbaiki
kurikulum sebelumnya, yaitu Kurikulum 2006.
Kemudian
Anies Baswedan menghentikan Kurikulum 2013 di sebagian besar sekolah. Hal ini dikarenakan Kurikulum 2013
dirasa bukanlah kurikulum yang tepat dan banyaknya konten yang tidak sesuai
dalam penerapannya (sumber: pontianakpost.com, 10/8/2016).
Kurikulum
2013 memiliki empat aspek penilaian, yaitu aspek
pengetahuan, aspek keterampilan, aspek sikap, dan perilaku. Di dalam Kurikulum
2013, terutama di dalam materi pembelajaran terdapat materi yang dirampingkan
dan materi yang ditambahkan. Materi yang dirampingkan terlihat ada di materi Bahasa
Indonesia, IPS, PPKn, dan lain sebagainya, sedangkan materi yang ditambahkan
adalah materi Matematika.
Materi
pelajaran tersebut (terutama Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam) disesuaikan
dengan materi pembelajaran standar Internasional (seperti PISA dan TIMSS)
sehingga pemerintah berharap dapat menyeimbangkan pendidikan di dalam negeri
dengan pendidikan di luar negeri (http://www.antikorupsi.org/id/content/kurikulum-2013-untuk-siapa).
Konteks Wacana Full Day School dalam Fusion of Horizon
Horizon
merupakan sebuah jarak pandang yang membatasi segala sesuatu yang dapat dilihat
dari suatu sudut pandang tertentu. Di satu sisi pemahaman dibatasi dalam
batasan teretentu berdasarkan pemahaman kita, sisi lain menunjukan sesuatu yang
berada di luar.
Hal
tersebut adalah usaha menempatkan diri untuk berada dalam percakapan atau
dialog yang memiliki horizon tersendiri (Dua: 2007). Fusion of horizon
merupakan horizon yang ada pada teks dengan konteks.
Teks
melekat dengan tradisi budayanya. Dalam konteks wacana full day school subyek-subyek memberikan makna terhadap teks
tersebut berdasarkan cara pandangnya sendiri. Ketika subyek tersebut memberikan
makna, mereka melihat dia dalam sebuah horizon.
Wacana full day school yang digagas Muhadjir
merupakan suatu sistem pendidikan baru yang akan dijalankan. Muhadjir membuat
perubahan sistem pendidikan tersebut adalah untuk memperbaiki sistem pendidikan
di Indonesia. Pendekatannya adalah pada pendidikan karakter. Sehingga dengan
penerapan full day school, siswa tidak hanya mengutamakan akademis saja, tetapi
pada kegiatan yang mendukung perkembangan anak.
Selain itu
melalui aspek budaya yang ada dalam keluarga, Muhadjir membangun gap yang ada
pada waktu antara anak dan orang tua. Muhadjir juga mengkorelasikan dengan
aspek sosial yaitu kenakalan remaja ketika anak tidak bersama orangtua di luar
jam sekolah.
Mengingat
latar belakang sejarah Muhadjir Effendi yang dipaparkan dalam latar belakang,
ada kemungkinan wacana tersebut adalah hasil dari latar belakang pribadinya
yaitu bahwa beliau adalah tokoh pendidikan, sosial dan militer.
Dengan demikian dapat dirangkum bahwa wacana full day school memiliki makna asli teks
tersebut adalah dalam aspek pendidikan karakter, sosial dan sistem dalam
pendidikan di suatu negara pada umumnya. Ini adalah horizon teks itu sendiri.
Seperti
yang terlihat pada pemahaman di atas, subyek-subyek memberikan makna terhadap
wacana full day school menurut
horizonnya. Para subyek memaknai berdasarkan perspektif dan dalam pendekatan
masing-masing. Dalam Truth dan Method Gadamer (dalam Outhwaite) Horizon
merupakan suatu situasi ketika seseorang mengenali obyek dalam perspektifnya.
Jusuf
Kalla, Wakil Presiden RI, memberikan dukungan terhadap wacana tersebut. Jusuf
Kalla memaknai wacana tersebut dengan memberikan perspektif berdasarkan
pendekatan sistem pendidikan yang sudah dijalankan selama ini di sekolah
swasta.
Pendekatan
Jusuf Kalla adalah memberikan horizonnya terhadap obyek yang sudah menjalankan
sistem pendidikan tersebut. Sebagai wakil kepala negara, Jusuf Kalla melihat
sistem pendidikan Indonesia yang harus merata baik swasta dan negeri. Oleh
karena praktik pendidikan swasta yang dianggap lebih baik daripada negeri. Dan
berangkat dari pendekatan peningkatan pendidikan Indonesia yang harus mengarah
pada perbaikan, maka Jusuf Kalla memberikan dukungan wacana full day school.
Pada
dasarnya fusion of horizon merupakan
sebuah proses. Subyek-subyek menginterpretasikan teks di mana teks otentik itu
sendiri adalah dasar dari interpretasi subyek. Sementara itu, jarak yang ada
antara fusion of horizon adalah sebuah
jarak yang sifatnya temporal.
Seseorang
hanya melihat atau menginterpretasikan teks melalui horizonnya, sementara yang
lain dari luar horizonnya. Hal ini merupakan kebenaran dari masing-masing
subyek.
Kebenaran
yang ada setiap subyek membuka fusion of
horizon yang baru. (dalam Sasaki). Fusion
of horizon baru tersebut adalah pemahaman dari kebenaran yang lain.
Sehingga hubungan antara teks dan interpretasi merupakan hubungan yang asimetris,
namun dengan kondisi yang memiliki teks dasar.
Fusion of horizon dapat dicapai dari
dialog-dialog yang ada. Pada perspektif komunikasi, dialog memberikan penekanan
pada mendengar dan saling mengisi satu sama lain (Littlejohn dan Foss: 2009).
Dialog memungkinkan
komunikator menyadari cara yang berbeda pada tiap individu dalam
menginterpretaskan dan memberikan makna pada hal yang sama. Dialog melihat pada
suatu proses yang dinamis, transaksional yang berfokus pada hubungan antara
tiap subyek. Tujuan dari dialog tersebut
adalah saling menghargai dan memahami.
Konsep
dialog menurut Mikhail Bakhtin merefleksikan antara kesatuan dan perbedaan, dan
jantung dari dialog adalah perspektif jarak dan perbedaan yang simultan
(Littlejohn dan Foss: 2009)
Demikian
pula pada wacana full day school yang
dimaknai oleh masing-subyek yang telah dikemukakan penulis. Berikut adalah
dialog-dialog yang terjadi di antara subyek-subyek yang didasari pada horizon
masing-masing atau yang dipahami sebagai kebenaran subyek.
Dedy Mulyadi,
Bupati Purwakarta adalah aparat pemerintah daerah. Sebagai tokoh masyarakat
daerah, Dedy memahami dalam pendekatan demografis. Dedy membandingkan wilayah
demografis di Indonesia di mana Jakarta berbeda dengan daerah lainnya.
Ketika
berbicara demografis yang berbeda, maka dalam tataran sosiokultural pun
berbeda. Pekerjaan di daerah erat dengan situasi demografisnya. Misalnya
pekerjaan nelayan dan petani seperti yang ada di Purwakarta. Dalam tataran
sosial pun berbeda, karena di daerah, anak membantu pekerjaan orangtuanya. Dengan
demikian, Dedy memaknai wacana full day
school dalam perspektif kultur lokal.
Kedua,
Dedy juga memaknai sekolah dalam suatu sistem yang ada di daerahnya. Dedy
melihat fasilitas sekolah yang menurutnya jauh dari harapan ketika akan
dilaksanakannya wacana tersebut. Sehingga ketika wacana tersebut akan
dijalankan, sistem pendidikan terutama dalam hal memperlengkapi fasilitas
pendukungnya juga perlu disiapkan.
Hal ini
adalah horizon interpretator (yang memberikan interpretasi) pada teks atau
wacana yang digagas Muhadjir. Horizon teks wacana full day school dan horizon Dedy Mulyadi sebagai interpretator.
Berikutnya
adalah pada perspektif guru sebagai pendidik. Sebagai seorang pelaksana
penyelenggaraan pendidikan, guru sangat mengenal dan memahami kurikulum yang
ada.
Kurikulum
menjadi aspek dalam menginterpretasikan wacana full day school. Kurikulum menjadi acuan (back bone) dalam kerangka pendidikan di sekolah.
Oleh
karena itu guru memberikan perbandingan kepada kurikulum terbaik yang perlu
dipertimbangkan dalam pelaksaanan pendidikan. Pendidikan bukanlah mengenai jam
pelajaran sehari penuh di sekolah. Pendidikan berbicara tentang bagaimana mendidik
anak yang efektif sehingga mencapai tujuan dari pendidikan itu sendiri.
Sebagai guru
tentu melekat pada anak didiknya. Memahami aspek psikologis maupun penunjang
anak didik dalam mengikuti proses belajar mengajar anak. Oleh karena itu ketika
memahami wacana yang digulirkan menteri pengganti Anies Baswedan ini, guru
memberikan interpretasi berdasarkan apa yang menjadi perhatiannya sehari-hari
di sekolah. Berkaitan dengan sistem pendidikan dan si anak didik.
Tidak
hanya itu, guru pun memaknai terhadap profesinya. Hal ini tentu akan
berpengaruh terhadap profesi guru yang harus menambah jam pekerjaannya dari
yang selama ini dilakukan. Sehingga kebijakan kesejahteraan guru juga perlu
menjadi suatu pertimbangan.
Dengan
demikian guru memberikan wacana full day
school berdasarkan horizon yang sesuai pada apa yang terjadi di sekolah.
Guru memiliki horizon dalam perspektif sosiokultural. Hal ini berkaitan dengan
sistem pendidikan yaitu kurikulum, psikologis anak didik dan dari aspek
ekonomi.
Bagi
orangtua, terutama jenjang SD, mereka mendampingi proses belajar mengajar si
anak. Dengan adanya perubahan sistem pada pendidikan, orangtua pun merasakan
dampaknya. Sistem pendidikan menjadi perhatian dalam perspektif memaknai full day school.
Kurikulum
2013 yang oleh orangtua masih dirasakan banyak ketidaksesuaian pada
penerapannya, kemudian diluncurkan sistem pendidikan yang baru tentu menuai
respon yang tidak positif.
Berbicara
sistem pendidikan tentu mengarah pada pola belajar anak. Hal inilah yang perlu
dipahami oleh orangtua yang mendampingi anak. Karena perubahan sistem pendidikan
berarti perubahan yang berdampak terhadap banyak hal. Baik itu dari segi
pendukung proses belajar mengajar, seperti buku dan lain lain, juga berkaitan
dengan segi biaya.
Bertambahnya
jam di sekolah, tentunya menambah kegiatan si anak yang nantinya akan
berpengaruh terhadap biaya-biaya yang harus ditanggung oleh orang tua.
Dengan
demikian, dalam memaknai wacana full day school, orangtua
menginterpretasikan dari horizonnya yang melekat pada perannya sebagai
pendamping belajar anak.
Hal lain
yang menjadi sudut pandang perhatian orangtua adalah dampak dari jam yang
diperluas di sekolah, maka kekawatiran orangtua adalah adanya penyimpangan yang
akan terjadi nantinya di sekolah. Faktor pencetus terjadinya kekerasan pada
anak di sekolah.
Selain hal
itu aspek psikologis anak dalam bersosialisasi juga menjadi pertimbangan
orangtua pada pelaksanaan full day school
nantinya. Sebagai orangtua, perkembangan psikologis anak menjadi satu perhatian
disamping pendidikan di sekolah.
Dengan
melihat perspektifnya orangtua tersebut di atas, maka terdapat horizon orangtua
dalam memaknai wacana full day school.
Horizon yang ada pada orangtua adalah memaknai dalam perspektif sosiokultural
dan psikologis anak.
Pada
perspektif anak, full day school
dimaknai secara psikologis secara fisik yaitu dampak dari belajar seharian
terhadap daya pikir (otak) dan tubuhnya. Wajar saja karena secara sederhana
aktivitas yang bertambah tentu berpengaruh terhadap tubuh mereka.
Oleh
karena itu siswa juga menginterpretasikan wacana full day school dalam sudut pandang sistem pendidikan yang
diterapkan di sekolah. Siswa erat kaitannya dengan sejumlah tanggung jawab
dalam tugas-tugas yang diberikan untuk siswa.
Horizon
pada siswa adalah berangkat dari konteks sosiokultural, yaitu sistem pendidikan
di Indonesia dan pada psikologis siswa (diri sendiri) yang mengandaikan jika
wacana full day school diterapkan
akan berdampak terhadap dirinya.
Melalui
horizon antara teks dengan horizon para subyek sebagai interpretator teks, maka
terlihat adanya hubungan timbal balik antara teks dengan konteks (Dua: 2007).
Setiap
interpreter yang memaknai wacana full day
school memperlihatkan hubungan timbal balik antara wacana full day school yang dicetuskan oleh
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Muhadjir Effendi dengan para subyek yang
memiliki interpretasi berdasarkan horizonnya.
Pemahaman muncul melalui adanya hubungan yang saling
mempengaruhi antara teks dengan interpreter (pemberi makna). Pemberi makna
memberikan interpretasi berdasarkan pengetahuan dari budaya maupun tradisi.
Pemahaman
interpreter berangkat dari pra pemahaman atau prasangka yang didasarkan pada
historisitas, yang berkaitan dengan tradisi, sistem, yang ada. Prasangka
bukanlah suatu yang negatif dalam Gadamer. Prasangka
adalah produktif dalam membangun pemahaman. Karena pemahaman dibangun dari
pemahaman yang lain.
Pencetus
teks dalam hal ini Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Muhadjir Effendi adalah
pembuat atau memroduksi teks yang dalam hal ini merupakan keterbatasan manusia.
Melalui
fusion of horizon, teks dapat
memiliki perbedaan. Baik sesuai makna pencetus atau berbeda. Seperti halnya
pada interpretasi subyek-subyek yaitu Dedy Mulyadi (pemerintah daerah), guru,
orangtua dan siswa. Dengan demikian mereka sebagai interpretator memahami masa
lampau (teks) yang diukur dengan keadaan saat ini. Sehingga teks tidak hanya
berada pada satu sisi.
Jarak
antara interpreter dengan pencetus dapat dilihat pada fusion of horizon. Ini adalah pemahaman yang sebenarnya (kebenaran).
Gadamer menggunakan fusion of horizon
sebagai karakteristik yang terbangun dari antara orang-orang.
Daftar Referensi
Buku
Bertens, K. 1981. Filsafat Barat Kontemporer. Jakarta:
Gramedia.
Dua,
Mikhael. 2007. Filsafat Ilmu Pengetahuan. Telaah Analitis, Dinamis, dan
Dialektis. Maumere. Ledalero.
Littlejohn,
Stephen W. Foss, Karen A. 2009. Theories
of Human Communication. Jakarta: Salemba Humanika.
Littlejohn,
Stephen W. Foss, Karen A. 2009. Encyclopedia of Communication Theory. Sage
Publishing.
Miller,
Katherine. 2005. Communication Theories:
Perspectives, Processes And Contexts. Chicago: McGraw Hill.
Ruben, Brent D. 1992. Communication and Human Behaviour.
Prentice Hall.
Jurnal
de Vresse ,
Claes H. News Framing: Theory and Typology.
Information
DesiNgneJwousrfnralm+iDnogc:uTmheenotrDyeasingnd1t3y(1p),o5l1o–g6y2 © 2005 John
Benjamins Publishing Company. http://msap-unlam.ac.id/download/bahan__bacaan/New%20Framing.pdf diakses pada Minggu, 21
Agustus 2016, Pk. 00.35.
Putra, R. Masri Sareb. Tradisi Hermenetika dan
Penerapannya dalam Studi Komunikasi. Jurnal UMN, Juni 2012, Volume IV, No.1. http://library.umn.ac.id/jurnal/public/uploads/papers/pdf/a57a35dfb0bdbf3772b5bb59f80b5dc8.pdf diakses pada 20 Agustus
2016, Pk. 11.18
Artikel
The Return of Grand Theory in Social Science. William
Outhwaite . http://www.uky.edu/~addesa01/documents/Outhwaite.pdf diakses Selasa, 23
Agustus 2016, Pk. 11.00
A Process of the Fusion of Horizons in the Text
Interpretation. Kazuya
SASAKI. Rikkyo University http://www.gcoe.lit.nagoya-u.ac.jp/eng/result/pdf/08_SASAKI.pdf diakses Selasa, 23
Agustus 2016, Pk. 11.00
https://m.tempo.co/read/news/2016/07/27/078790887/ini-susunan-menteri-baru-hasil-reshuffle diakses Kamis, 18
Agustus 2016, Pk.11.49.
http://news.okezone.com/read/2016/07/27/65/1447883/reshuffle-kabinet-profil-muhadjir-effendy-mendikbud-pengganti-anies-baswedan diakses Kamis 18
Agustus 2016, Pk.14.18.
http://nasional.republika.co.id/berita/nasional/umum/16/07/27/oayo15368-ini-profil-muhadjir-pengganti-anies-baswedan diakses Kamis 18
Agustus 2016, Pk.14.38.
http://edukasi.kompas.com/read/2016/08/08/12462061/ini.alasan.mendikbud.usulkan.full.day.school Diakses Kamis 18
Agustus 2016, Pk.15.14
(http://www.rowan.edu/open/philosop/clowney/Aesthetics/ReadingGuides/GadamerGuide.html) diakses pada 19 Agustus 2016, Pk.15.12.
http://regional.kompas.com/read/2016/08/09/10200001/bupati.dedi.tolak.rencana.full.day.school.
Diakses 22 Agustus 2016, Pk.21.09
http://news.metrotvnews.com/news/Rb179J3K-full-day-school-bukan-hal-baru Diakses 22 Agustus
2016, Pk.21.09
http://www.pontianakpost.com/ortu-tolak-full-day-school Diakses 22 Agustus 2016, Pk.21.19
http://www.cnnindonesia.com/internasional/20141120051207-134-12638/mengapa-sekolah-finlandia-terbaik-di-dunia/
Diakses 22 Agustus 2016, Pk.21.21
http://www.antikorupsi.org/id/content/kurikulum-2013-untuk-siapa diakses 22 Agustus, Pk.
22.14.
http://megapolitan.kompas.com/read/2016/08/08/16195301/wacana.sekolah.full.day.ini.tanggapan.murid.dan.orangtua diakses 24 Agustus
2016, Pk. 11.10
No comments:
Post a Comment